15.700 Jiwa di Tapanuli Utara Terdampak Bencana, Ratusan Rumah Warga Rusak

2 hours ago 2

Jakarta -

Bupati Tapanuli Utara Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat melaporkan kondisi terkini penanganan bencana yang melanda di Sumatera Utara. Hingga hari ini, lebih dari 15.700 jiwa terdampak langsung di dua kecamatan terparah.

"Korban yang terdampak di dua kecamatan ini kurang lebih sekitar 15.700 jiwa yang terdampak, Pak. Dan kalau diikutkan dengan banjir, ini mungkin mencapai 25.000. Karena masih ada dua kecamatan lagi yang berdampak banjir, tapi kondisi saat ini banjirnya sudah surut," kata Jonius dalam Rakor Penanganan Darurat Bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Minggu (30/11/2025).

Jonius menyebut dua kecamatan yang paling parah adalah Parmonangan dan Adian Koting, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tapanuli Tengah. Di wilayah ini, terdapat sejumlah desa yang masih terisolir, tanpa akses jalan, listrik, maupun komunikasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beberapa desa sama sekali putus kontak. Jalan tidak bisa dilalui, listrik padam, dan komunikasi terputus. Ini sudah hari kelima kami bekerja nonstop dengan TNI-Polri," lanjutnya.

Jonius menyampaikan bahwa dari pendataan sementara, 23 orang meninggal dunia, sementara 13 orang luka-luka masih mendapat perawatan. Adapun 25 warga lainnya masih dinyatakan hilang. Di Adian Koting, sepanjang jalan utama dilaporkan mengalami kerusakan dan longsor parah, bahkan ada titik yang membuat empat desa terisolir total.

"Jaraknya delapan jam berjalan kaki. Bahan pangan tidak bisa masuk. Komunikasi juga tidak ada. Mereka sangat membutuhkan bantuan," ucapnya.

Jonius pun meminta pemerintah pusat melakukan airdrop bantuan pangan untuk empat titik terisolir di dua kecamatan tersebut. Ia menyebut bantuan udara sejauh ini baru menjangkau dua desa melalui helikopter BNPB, namun kapasitas masih terbatas.

"Harapan kami, untuk desa-desa terisolir mohon diberikan bantuan lewat udara. Totalnya ada sekitar 12 desa terdampak," katanya.

"Masyarakat meminta beras, ikan, minyak goreng. Mereka sangat kekurangan," imbuhnya.

Sementara itu, Ia juga melaporkan bahwa sekitar 175 rumah hilang atau rusak parah, ditambah 200 rumah lainnya mengalami kerusakan. Pihaknya pun berencana merelokasi permukiman warga ke wilayah perbukitan yang lebih aman.

"Lokasi permukiman saat ini tidak memungkinkan lagi. Tapi untuk relokasi kami membutuhkan regulasi karena harus menggunakan hutan negara," imbuhnya.

(bel/wnv)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |