loading...
Setelah beberapa bulan lalu dicekam ketakutan akan kelangkaan energi akibat konflik geopolitik, pasar minyak mentah global kini justru bersiap menghadapi ancaman baru banjir pasokan raksasa. Foto/Dok
JAKARTA - Keadaan pasar energi dunia berubah 180 derajat dalam waktu yang sangat singkat. Setelah beberapa bulan lalu dicekam ketakutan akan kelangkaan energi akibat konflik geopolitik, pasar minyak mentah global kini justru bersiap menghadapi ancaman baru banjir pasokan (supply glut) raksasa.
Kondisi ini memaksa lembaga keuangan elite Wall Street, Morgan Stanley mengambil langkah ekstrem dengan memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kedua kalinya hanya dalam waktu dua minggu. Dalam nota analisis terbarunya yang dikutip dari Bloomberg, Morgan Stanley secara drastis memangkas prediksi harga minyak Dated Brent untuk kuartal III tahun 2026 ini sebesar USD15 menjadi hanya USD75 per barel.
Langkah pesimistis ini segera diikuti oleh raksasa perbankan lain seperti Goldman Sachs, yang ikut memotong proyeksi mereka menjadi USD80 per barel. Baca Juga: Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
Efek Selat Hormuz di Luar Prediksi
Pemicu utama di balik terjun bebasnya prediksi harga minyak ini adalah normalisasi jalur laut terkritis di dunia -Selat Hormuz- yang berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Pemulihan ini terjadi pasca-penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Analis komoditas dari Morgan Stanley mengungkapkan, fakta mengejutkan di lapangan, bahwa lalu lintas kapal tanker sudah mulai pulih.
Pada akhir pekan lalu, sebanyak 35 kapal tanker minyak dan gas terpantau sukses keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz. Angka ini mengembalikan kepercayaan pasar karena sudah masuk dalam rentang normal pra-konflik (30 hingga 40 kapal per hari).
Kembalinya minyak asal Timur Tengah ini langsung menumpuk di pasar internasional, menciptakan jumlah kargo minyak mentah yang tidak terjual (unsold cargoes) berada jauh di atas batas normal.
Siklus Sempurna: Dari Krisis Energi Menuju Banjir Surplus 2027
Kita melihat bagaimana pasar komoditas bergerak seperti roda yang berputar cepat. Ketika Selat Hormuz ditutup, pasar mengalami defisit pasokan yang dalam. Namun saat keran raksasa itu dibuka kembali, dunia ternyata sudah terlanjur memiliki alternatif pasokan lain yang kuat.

















































