Perkembangan AI Mulai Ubah Lanskap Pekerjaan di Sektor Teknologi China

5 hours ago 3

loading...

Perkembangan pesat AI mulai mengubah lanskap pekerjaan di sektor teknologi China. Kondisi ini bisa melenyapkan separuh dari seluruh pekerjaan kerah putih tingkat pemula. Foto/Bloomberg

JAKARTA - Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dinilai mulai mengubah lanskap industri teknologi di China. Sejumlah analis menilai kemajuan teknologi tersebut tidak hanya meningkatkan produktivitas perusahaan, tetapi juga memunculkan kekhawatiran baru mengenai masa depan jutaan pekerja di sektor teknologi.

Dalam editorial Daily Mirror, Senin (10/8/2026), disebutkan skenario masa depan ketika sebagian besar pekerjaan kantoran dapat digantikan oleh agen AI. Kemampuan AI yang terus berkembang memungkinkan satu pekerja mengelola banyak sistem AI sekaligus, sehingga kebutuhan tenaga kerja manusia berpotensi menurun secara signifikan.

Baca Juga: AI, Robot, dan Modal Negara: Taruhan Besar Xi Jinping untuk Masa Depan China

Pekerjaan berbasis pengetahuan atau mental labour, yang selama ini dianggap sulit digantikan, justru diproyeksikan lebih rentan terhadap otomatisasi dibandingkan pekerjaan fisik.

Dario Amodei, CEO dari perusahaan Anthropic, memproyeksikan dampak AI terhadap dunia kerja, termasuk di kalangan pekerja kantoran.

“AI dapat melenyapkan separuh dari seluruh pekerjaan kerah putih tingkat pemula—serta melonjakkan tingkat pengangguran hingga 10–20% dalam satu hingga lima tahun ke depan,” ujar Amodei, dalam keterangannya kepada Axios.

Pandangan tersebut muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI untuk membantu pengembangan perangkat lunak. Berbagai alat berbasis AI kini mampu menghasilkan kode pemrograman, mempercepat proses pengujian, hingga membantu penyelesaian proyek yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu.

Kondisi tersebut mulai mengubah kebutuhan perusahaan terhadap tenaga programmer. Tim yang sebelumnya memerlukan banyak insinyur perangkat lunak kini dapat menghasilkan produktivitas yang jauh lebih tinggi dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit.

“Kami telah mencapai hasil yang seharusnya hanya bisa dicapai jika kami mempekerjakan tambahan sekitar 200 orang,” tutur CEO Grindr, George Arison, dalam keterangan kepada Business Insider.

Gelombang Pengurangan Karyawan

Di sisi lain, perubahan tersebut disebut telah memperbesar kecemasan di kalangan pekerja teknologi.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |