Jakarta -
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut sekitar 16 wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih perlu perhatian khusus. Masalah utamanya seperti jembatan putus hingga longsor.
Hal itu diungkapkan dalam rapat koordinasi (rakor) lanjutan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Rakor diikuti sejumlah kementerian dan lembaga anggota satgas di Kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).
Tito menyebut, di Sumatera Barat masih ada lima wilayah yang perlu perhatian khusus. Katanya dari 19 daerah kabupaten/kota, sebanyak 16 yang terdampak pada saat bencana, lalu lima wilayah kini sudah kembali normal, diantaranya yaitu Kabupaten Solok Selatan, kemudian Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, dan Kabupaten Pesisir Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian wilayah yang sudah mendekati normal sekitar enam, misalnya Kota Solok, kemudian Kepulauan Mentawai, Kota Padang, kemudian Kota Pariaman, Kabupaten Lima Puluh Kota. Kemudian ada juga Kabupaten Pasaman Barat
"Sehingga yang perlu atensi khusus adalah 5 kabupaten/kota, yaitu nomor satu jelas adalah Kabupaten Agam. Ini ada berbagai permasalahan mulai dari pemerintahan, kemudian juga ada masalah sarana layanan kesehatannya rata-rata Sumatera Barat kalau menurut catatan kami," kata dia dalam pemaparannya.
Selanjutnya, Tito menerangkan untuk wilayah Sumatera Utara sudah lima wilayah yang kembali normal dari total 18. Wiliyah yang sudah normal mulai dari Kota Medan, kemudian Kabupaten Nias, Kabupaten Langkat, ini kemudian Kabupaten Asahan, Kabupaten Batu Bara.
"Yang mendekati normal 11 kabupaten. Ada yang memerlukan atensi khusus meskipun tidak menafikan tentunya yang lain, yaitu Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara. Tapanuli Selatan yang terdampak buruk kemarin memang ada beberapa fasilitas pendidikan, saya ulangi, jalan provinsi yang masih ada hambatan di Tapanuli Selatan," jelas dia.
"Kemudian juga ada sungai, terutama di Batang Toru dan Garoga, dua itu. Itu tumpukan sedimentasi masih sangat sangat banyak di sana. Kalau kita lihat yang perlu atensi sungai itu adalah Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, itu yang paling utama," sambungnya.
Selanjutnya, di Aceh tercatat delapan wilayah yang masih perlu mendapat perhatian khusus. Kebanyakan di wilayah dataran tinggi.
"Yang perlu atensi khusus ada 8 dari 19, 18 terdampak. Di Highland itu di daerah pegunungan itu tiga, yaitu Bener Meriah, Gayo Lues, dan kemudian di Aceh Tengah yang ibukotanya Takengon. Itu rata-rata permasalahannya adalah jalan yang longsor atau hilang dan jembatan yang putus. Jalan nasional sudah masuk, sudah. Kalau tidak memakai jembatan sementara, dia memakai jalan alternatif dengan terobosan," kata dia.
(tsy/jbr)

















































