Kurangi Impor Energi Fosil, Waka MPR Dorong Percepatan Elektrifikasi

6 hours ago 3

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan pentingnya percepatan elektrifikasi. Hal itu sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dari sumber impor yang membebani APBN.

Menurut Eddy, kondisi geopolitik global yang tidak menentu, khususnya di kawasan Timur Tengah, harus menjadi alarm ketergantungan terhadap impor energi fosil seperti minyak mentah, LPG, dan gas masih sangat tinggi dan berisiko terhadap stabilitas energi dalam negeri.

"Situasi global saat ini menunjukkan bahwa kita harus segera mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Elektrifikasi menjadi salah satu solusi yang paling realistis dan dapat dilakukan dalam waktu relatif cepat," ujar Eddy, dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eddy menambahkan peningkatan elektrifikasi perlu dilakukan secara menyeluruh, baik di sektor industri maupun rumah tangga.

Salah satu langkah konkret yang didorong adalah peralihan penggunaan LPG ke kompor listrik di rumah tangga.

"Selama ini kita mengimpor jutaan ton LPG setiap tahun untuk kebutuhan rumah tangga. Ini membuat kita rentan terhadap fluktuasi harga global dan tekanan geopolitik," ujar Eddy.

"Elektrifikasi rumah tangga, termasuk penggunaan kompor listrik, adalah solusi konkret untuk mengurangi ketergantungan tersebut," sambungnya.

Eddy juga menekankan langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan memanfaatkan keunggulan domestik, terutama dari sektor kelistrikan yang semakin didominasi oleh sumber energi dalam negeri, termasuk energi baru terbarukan.

Namun, Eddy mengingatkan kebijakan ini harus dilakukan secara bertahap dan memperhatikan kesiapan masyarakat.

Eddy menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam bentuk insentif, edukasi publik, serta jaminan ketersediaan infrastruktur listrik yang andal dan terjangkau.

"Pemerintah perlu memastikan bahwa masyarakat mendapatkan akses terhadap peralatan yang terjangkau, listrik yang stabil, dan pemahaman yang cukup mengenai manfaat jangka panjang dari penggunaan kompor listrik," ujar Eddy.

Selain itu, Eddy juga menekankan sektor ketenagalistrikan memiliki peran kunci dalam mendukung transisi energi menuju pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

Eddy menyebut hingga saat ini, Indonesia masih bergantung pada minyak dan gas dalam jumlah besar, sementara alternatif penggantinya belum sepenuhnya tersedia.

"Transisi energi tetap harus berjalan, dan sektor listrik adalah yang paling siap untuk dipercepat. Ini sejalan dengan upaya kita mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau bahkan lebih cepat," pungkasnya.

(anl/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |