Konsistensi Iptu Jumadil Belasan Tahun Mengajar di Pesantren Tradisional Aceh

6 hours ago 3

Jakarta -

Iptu Jumadil Firdaus dikenal tidak hanya sebagai polisi tapi juga sebagai pengajar yang telah mendidik anak-anak di pesantren tradisional Banda Aceh. Ia memaknai pengabdiannya tersebut sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Atas dedikasinya, Iptu Jumadil diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Perwira yang kini menjabat sebagai Kasubbag Binkar SDM Polresta Banda Aceh itu dinilai sebagai polisi yang bersahaja dan dekat dengan masyarakat.

Salah satu yang mengusulkan Iptu Jumadil yaitu Hasvi Harizi. Hasvi mengenal Iptu Jumadil sejak dirinya mondok di Pesantren Raudhatul Hikmah Al Waliyah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu itu beliau memang sangat aktif di pengajaran. Beliau termasuk guru saya," kata Hasvi yang kini telah menjadi pengurus di pesantren tersebut.

Hasvi mengenal Iptu Jumadil dari dua sisi yaitu sisi spiritual dan sisi kemasyarakatan. Dari sisi spiritual, Hasvi mengatakan Iptu Jumadil merupakan sosok yang saleh dan selalu memberikan keteladanan kepada murid-muridnya.

"Emang saya banyak lihat betul akhlaknya bagaimana, keteladanannya bagaimana di kelas itu memang ya nampak, ya saya saksinya dari sisi murid gitu," kata Hasvi.

Dalam konteks bermasyarakat, Hasvi juga belajar dari Iptu Jumadil tentang bagaimana berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai elemen warga. Dari Iptu Jumadil pula, Hasvi memahami cara menyelesaikan masalah.

"Saya belajar banyaknya dari Tengku Jumadil bagaimana beliau cara menghadapi masyarakatnya, cara menghadapi nanti ada santri masalahnya bagaimana, jadi waktu itu saya lihat integritas beliau ini memang nampak di situ," imbuh Hasvi.

Kesaksian mengenai sosok Iptu Jumadil juga disampaikan oleh Rudiansyah, pengurus masjid di sekitar tempat tinggal Iptu Jumadil. Rudiansyah mengatakan Iptu Jumadil memang sudah aktif dalam kegiatan keagamaan sejak sebelum menjadi polisi.

"Beliau ini memang dulunya sebelum menjabat sebagai Polri, memang pernah menjabat sebagai ketua remaja masjid di masjid pemukiman. Kemudian aktif di berbagai kegiatan ormas kepemudaan," ujar Rudi.

Setelah menjadi anggota Polri, kata Rudi, Iptu Jumadil juga tetap melanjutkan pengabdiannya di bidang keagamaan. Iptu Jumadil kerap mengisi tausiyah hingga menjadi imam di masjid-masjid.

"Artinya beliau diundang oleh pengurus masjid untuk menjadi imam, memberikan tausiyah sebagaimana mestinya tengku-tengku yang ada di desa-desa," ujar Rudi.

Selain itu, Rudi juga mengenal Iptu Jumadil sebagai sosok yang mengayomi. Menurut Rudi, masalah di masyarakat akan lebih mudah diselesaikan jika berbicara langsung dengan Iptu Jumadil.

"Misal ada persoalan baik perkara hukum atau lain sebagainya, ketika kita bertanya, arah yang beliau berikan lebih mudah kita cerna. Artinya tidak kita melihat sosok polisi ini artinya menakutkan. Karena pembawaannya yang dibentuk seperti orang yang pemimpin yang bisa mengayomi. Jadi bukan hanya masyarakat biasa, anak-anak pun lebih mudah kalau duduk berbicara dengan beliau," tutur Rudi.

Iptu JumadilIptu Jumadil Firdaus (Foto: Dok Ist)

Cerita Pengabdian Iptu Jumadil

Iptu Jumadil sebelumnya juga merupakan kandidat Hoegeng Corner 2025. Dia pun menceritakan awal mula dirinya bisa terlibat mengajar di pesantren selama belasan tahun.

Dia bercerita mengenai ketertarikannya dalam mengajar yang sudah dilakukan sejak SMA hingga kuliah. Saat itu dia sudah mengajar anak-anak untuk mengaji di TPQ.

Setelah lulus kuliah, Iptu Jumadil masuk menjadi anggota polisi pada 2005, atau setelah bencana tsunami melanda Tanah Rencong. Saat itu dia aktif membantu sebagai pengasuh di asrama anak yatim yang dibangun oleh Kerajaan Johor Malaysia untuk korban yang terdampak tsunami.

"Saya terus mengajar di sana, pengasuh anak-anak yatim 2005 sampai 2012," kata Iptu Jumadil.

Baru kemudian pada 2012, Iptu Jumadil aktif membantu Pesantren Raudhatul Hikmah Al Waliyah, asuhan pimpinan Tgk H Syukri Daud Pango Raya. Dia mengajar di pesantren tersebut pada malam hari selepas dirinya pulang dinas.

Jumlah santri di pesantren tradisional itu sempat mencapai 350 orang namun kini hanya sekitar 250 orang. Pesantren tersebut terdiri dari beberapa kelas laki-laki dan perempuan.

"Kalau untuk anak-anak mungkin sekitar segituan. Namun yang tinggal pesantren paling 50, yang lain tinggal di rumahnya masing-masing," ujar Iptu Jumadil menjelaskan soal kondisi santri di sana.

Namun berbeda dengan pesantren modern, tidak ada ijazah yang dikeluarkan oleh Pesantren Raudhatul Hikmah Al Waliyah. Mereka yang belajar mengaji di pesantren tersebut tetap mengikuti sekolah formal di sekolah lain.

"Paginya yang sekolah, sekolah gitu, yang ada kuliah gitu, malam pengajian," kata Iptu Jumadil.

Iptu Jumadil mengajar materi sesuai kurikulum yang ditentukan oleh pesantren. Dia pernah mengajar santri tentang tajwid, tadarus Al-Quran hingga kitab Arab.

"Jadi tergantung kurikulum dan jadwal dewan guru yang ditetapkan manajemen pesantren," imbuh dia.

Iptu JumadilIptu Jumadil Foto: Dok Ist

Alasan Iptu Jumadil konsisten mengajar di pesantren selama 12 tahun karena dia meniatkan hal itu sebagai ibadah. Dia teringat pesan orang tua dan guru yang selalu menekankan mengenai pentingnya untuk berkontribusi dalam pendidikan.

"Kemudian memang saya juga berpikir bahwa kami yang saat ini melekat kepada saya selaku anggota Polri, ini pengabdian kami yang merupakan ibadah-ibadah. Dan ini memang sudah takdir saya saya ditetapkan oleh Allah sebagai polisi dan memang pengabdian itu tujuan saya mengajar memang semata-mata berharap ibadah dan rido Allah SWT," ujar dia.

Selain itu, Iptu Jumadil juga menceritakan pengalamannya saat menjadi Kapolsek Banda Raya, Banda Aceh. Dia menggagas program 'Berkah Seuribee' atau sehari seribu.

"Itu memang program yang coba saya canangkan bersama saya dan rekan-rekan karena saya melihat masih ada saudara-saudara kita di bawah garis kemiskinan," kata Iptu Jumadil.

Dia menjelaskan program ini merupakan keikhlasan para anggota untuk menyedekahkan infaq sehari seribu. Ide tersebut disambut positif oleh anggotanya yang saat itu berjumlah sekitar 30 orang.

Dari program tersebut, terkumpullah uang sejuta lebih dalam setiap bulannya. Uang itu digunakan untuk membantu fakir miskin dan anak yatim yang berada di sana.

"Kita bantu mereka karena sebagai wujud sebagai ibadah. Dalam islam banyak sedekah banyak rezeki," ujar dia.

(knv/lir)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |