Guru Honorer, Pilar Senyap Pendidikan

2 hours ago 2

loading...

Hendarman - Ketua Dewan Pakar JFAK INAKI/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor. Foto: Dok Pribadi

HENDARMAN
Ketua Dewan Pakar JFAK INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor

Wacana pendidikan bermutu seringkali dipenuhi istilah besar. Salah satu pandangan, bahwa pendidikan bermutu merupakansistem pendidikan yang memfasilitasi kebutuhan, potensi, minat, dan bakat murid secara optimal, serta berfokus pada proses pembelajaran mendalam (deep learning), karakter, dan relevansi keterampilan (akademik/non-akademik). Terwujudnya konsep ini menekankan pada peningkatan kualitas guru, sarana prasarana yang memadai, serta kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk menghasilkan lulusan kompeten dan berdaya saing.

Namun, satu hal mendasar kerap luput dari perhatian publik, yaitu kondisi nyata guru yang menjadi pelaksana utama seluruh agenda tersebut. Pendidikan bermutu tidak mungkin tumbuh dari ketidakpastian hidup para pendidiknya, khususnya guru honorer yang selama ini menjadi pilar senyap sistem pendidikan nasional.

Dalam struktur pendidikan Indonesia, guru honorer bukanlah kelompok kecil. Mereka justru menjadi tulang punggung layanan pendidikan, terutama di daerah dan satuan pendidikan yang kekurangan guru ASN (Aparatur Sipil Negara). Seyogianya kontribusi besar ini berbanding lurus dengan jaminan kesejahteraan yang mereka terima. Namun fakta yang ada tidak menunjukkan hal tersebut.

Realitas Sosial Pendidikan
Secara teoretis, hubungan antara kesejahteraan guru dan mutu pendidikan telah lama dibahas dalam literatur kebijakan pendidikan. UNESCO menekankan bahwa kesejahteraan guru mencakup dimensi ekonomi, profesional, dan psikologis yang saling berkaitan. Guru yang sejahtera memiliki kapasitas lebih besar untuk berkembang, berinovasi, dan beradaptasi dengan perubahan.

Michael Fullan mengingatkan bahwa reformasi pendidikan akan gagal jika guru hanya diposisikan sebagai pelaksana kebijakan tanpa dukungan yang memadai. Sementara itu, Darling-Hammond menunjukkan bahwa sistem pendidikan berkinerja tinggi di berbagai negara maju selalu diawali dengan investasi serius pada kesejahteraan dan profesionalisme guru.

Berbagai studi dan survei juga menunjukkan bahwa sebagian besar guru honorer masih hidup dalam kondisi ekonomi yang rentan. Penghasilan yang berada di bawah standar kelayakan memaksa banyak guru mencari pekerjaan tambahan di luar profesinya. Situasi ini bukan hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga berimplikasi pada fokus, energi, dan daya tahan psikologis guru dalam menjalankan tugas profesionalnya.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |