Jakarta -
Transisi Energi bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan sekaligus bagian dari strategi pembangunan nasional untuk memperkuat ketahanan energi dalam menghadapi krisis iklim.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno saat menjadi keynote speech dalam acara Peluncuran Film Dokumenter 'Energi Untuk Negeri' di Ruang Teater Asrul Sani, Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Eddy mengatakan bahwa film dokumenter ini bisa menjadi sarana efektif untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya transisi dari energi fosil ke Energi Bersih dan Terbarukan (EBT).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Transisi energi itu adalah keharusan bagi kita karena bisa langsung membantu serta mendukung program kita untuk mengurangi emisi gas rumah kaca demi memperbaiki kualitas udara, serta kualitas polusi untuk mengurangi dan mengendalikan krisis iklim yang kita hadapi sekarang," kata Eddy, Rabu (2/9/2026).
Eddy menyebutkan terdapat beberapa perkembangan positif dalam transisi energi global. Salah satunya yaitu semakin kuatnya transisi energi sebagai gerakan global serta semakin kompetitifnya biaya energi terbarukan.
Dia mengatakan harga panel surya telah mengalami penurunan secara signifikan dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Perkembangan teknologi baterai dan kendaraan listrik juga dinilai semakin membuka peluang untuk percepatan transisi energi.
Namun, Eddy mengingatkan bahwa dunia masih menghadapi tantangan berupa disorderly energy transition (transisi energi yang tidak teratur). Di satu sisi, investasi energi terbarukan terus meningkat, tetapi di sisi lain pengembangan energi fosil masih berlangsung dalam skala besar.
"China mengembangkan PLTU batu bara paling tinggi volumenya di dunia. Tetapi, China juga mengembangkan sumber energi terbarukan, solar, dan angin. Sehingga, saat ini China adalah negara dengan kapasitas solar dan angina terbesar di dunia," jelasnya.
Eddy melihat transisi energi dapat menjadi peluang ekonomi baru di Indonesia. Pengembangan energi terbarukan dinilai berpotensi menciptakan investasi, industri hijau, serta lapangan pekerjaan hijau (green jobs).
"Transisi energi ini adalah salah satu strategi pembangunan kita. Jadi harus kita laksanakan, bukan hanya sekedar upaya dekarbonisasi saja," katanya.
Eddy menambahkan transisi energi juga sejalan dengan amanat konstitusi, khususnya pada Pasal 33 Ayat 4 UUD NRI Tahun 1945 yang menekankan prinsip pembangunan ekonomi berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
"Jadi kita tidak hanya bicara saja bahwa kita melakukan transisi energi, mencegah perubahan iklim atau krisis iklim, tapi kita melaksanakan itu secara konsekuen," ujarnya.
Eddy berharap melalui film dokumenter 'Energi Untuk Negeri' ini dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas dan mendorong semakin banyak orang memahami tantangan serta peluang dalam transisi energi.
"Ini salah satu dukungan positif yang diperlukan agar transisi energi ini menjadi agenda utama untuk pengembangan dan pembangunan ekonomi kita ke depannya," tutupnya.
(ega/ega)

















































