Jakarta -
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menurunkan 25 unit perbantuan untuk menangani lonjakan volume sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Pihaknya pun menargetkan penanganan sampah tuntas dalam waktu lima hari ke depan.
"Sebanyak 25 unit perbantuan dikerahkan untuk melakukan penanganan sampah secara intensif agar akumulasi sampah tidak mengganggu aktivitas pasar dan lingkungan sekitar," kata Kepala Sudin LH Jakarta Timur, Julius Monangta, dalam keterangan, Sabtu (10/1/2026).
Ia menjelaskan penanganan sampah di Pasar Induk Kramat Jati sejatinya dilakukan setiap hari. Namun, pada periode tertentu, terutama saat musim buah, volume sampah meningkat signifikan dan melampaui kapasitas penanganan rutin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini kemampuan penanganan sampah di kawasan tersebut sekitar 160 ton per hari. Sedangkan pada musim tertentu, timbulan sampah bisa mencapai hingga 220 ton per hari. Artinya, terjadi akumulasi atau 'tabungan' sampah sekitar 60 ton setiap harinya," ujarnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Sudin LH Jakarta Timur menargetkan penanganan perbantuan dapat dituntaskan dalam lima hari ke depan. Armada pengangkut sampah diprioritaskan melakukan dua rit pengangkutan per hari menuju TPST Bantargebang agar penumpukan sampah dapat segera terurai.
Dalam pelaksanaan perbantuan ini, pihaknya mengerahkan 23 pengemudi, dua operator alat berat, serta empat pengawas lapangan. Kegiatan ini didukung oleh 13 unit dump truck, 10 unit tronton, dan dua unit shovel loader guna mempercepat proses pemindahan dan pengangkutan sampah di area pasar.
Monang menegaskan bahwa berdasarkan Perda Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah dan Pergub Nomor 102 Tahun 2021 tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di Kawasan dan Perusahaan, kawasan komersial, termasuk pasar memiliki kewajiban untuk mengelola sampah secara mandiri, baik melalui pengelolaan internal maupun kerja sama dengan pihak ketiga.
"Saat ini Sudin LH Jaktim melakukan perbantuan karena Pasar Induk Kramat Jati merupakan fasilitas publik yang strategis. Namun kewajiban pengelolaan sampah secara mandiri tetap harus dijalankan oleh Perumda Pasar Jaya sesuai ketentuan yang berlaku," ucapnya.
Sebelumnya, Warga mengeluhkan bau menyengat dari sampah menggunung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur (Jaktim). Penumpukan sampah ini terjadi karena truk pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berkurang.
Pantauan detikcom di lokasi, Jumat (9/1) pukul 09.30 WIB, gunungan sampah masih tampak di bagian belakang Pasar Induk Kramat Jati. Gunungan sampah itu tampak cukup tinggi hingga setengah tiang lampu jalan.
Tembok pembatas pasar dengan permukiman warga tampak jebol. Sampah terlihat berjatuhan ke arah permukiman.
(bel/aik)


















































