loading...
BKI bekerja sama dengan Unpatti menyelenggarakan Pelatihan Marine Surveyor sebagai upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang survei kelautan dan pemeriksaan teknis maritim. Foto/Dok
JAKARTA - PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Pattimura (Unpatti) menyelenggarakan Pelatihan Marine Surveyor sebagai upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang survei kelautan dan pemeriksaan teknis maritim . Pelatihan yang berlangsung di Fakultas Teknik Unpatti ini dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan dasar yang relevan dengan kebutuhan dunia industri maritime.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Unit Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan BKI, Arif Bijaksana Prawira Negara; Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni Fakultas Teknik Unpatti, Nil Edwin Maitimu, S.T., M.T.; serta Dosen Bidang Keahlian Marine Engineering, Fakultas Teknik Unpatti, Novitha L. Th. Thenu. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan industri dalam mempersiapkan tenaga kerja maritim yang kompeten.
Baca Juga: BKI dan TNI AL Perkuat Sinergi Bahas Kolaborasi Keamanan Maritim
Dalam sambutannya, Arif Bijaksana Prawira Negara menekankan, bahwa peningkatan kompetensi melalui pelatihan dan sertifikasi profesional merupakan kebutuhan mendesak bagi mahasiswa teknik. Menurutnya, industri saat ini membutuhkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan teknis tambahan.
Selain kemampuan teknis, Arif juga menyoroti pentingnya soft skills seperti komunikasi, pengambilan keputusan, kerja sama, serta pengalaman organisasi. “Industri menilai karakter dan etika kerja sama pentingnya dengan kemampuan teknis,” ujarnya.
Ia berharap pelatihan ini memberi manfaat nyata sekaligus membuka peluang kolaborasi berkelanjutan antara BKI dan Unpatti.
Wakil Dekan Fakultas Teknik Unpatti, Nil Edwin Maitimu menyampaikan, bahwa kebutuhan tenaga terampil bersertifikat terus meningkat, terutama pada proyek-proyek industri besar, termasuk perusahaan yang beroperasi di Blok Masela. Ia menegaskan bahwa ijazah saja tidak lagi memadai untuk memenuhi tuntutan kompetensi industri.


















































