Polri terus memburu gembong narkoba Fredy Pratama dan jaringannya. Terbaru, Bareskrim Polri menangkap anak buah Fredy Pratama bernama Frans Antony di Malaysia.
"Iya betul (Frans Antony)," ujar Dirtipid Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso saat dimintai konfirmasi detikcom, Jumat (19/6/2026).
Frans kemudian diterbangkan dari Malaysia menuju ke Jakarta. Eko juga mengungkap peran Frans dalam sindikat narkoba Fredy Pratama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, Fredy Pratama merupakan gembong narkoba pengendali 10,2 ton sabu di Indonesia dengan julukan 'The Secret' alias 'The Cassanova'. Dia mulai menjadi pemain narkoba sejak 2009.
Fredy Pratama diklaim sebagai satu-satunya importir yaba, sabu dalam bentuk pil asal Thailand. Dia melarikan diri ke Thailand sejak 2014 dan terus diburu hingga saat ini.
Tampang Fredy Pratama, gembong narkoba, sebelum dan sesudah operasi plastik.(dok. istimewa)
Fredy Pratama diketahui beberapa kali melakukan operasi plastik untuk menghindari pengejaran aparat. Dia juga menikah dengan wanita Thailand. Mertuanya adalah bos kartel narkoba di kawasan Segitiga Emas atau Golden Triangle yang merujuk pada pusat narkoba Asia Tenggara di sebagian Myanmar, China, Laos, Thailand.
Fredy Pratama diketahui mengendalikan jaringannya dari Thailand. Dia tercatat memiliki jaringan yang beroperasi di 14 provinsi meliputi Sumatera Utara, Riau, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara dengan perputaran uang haram mencapai puluhan triliun.
Sulitnya penangkapan Fredy Pratama, menurut kepolisian, disebabkan dua hal. Pertama, karena Fredy kerap menyamar baik identitas maupun tampilannya. Sedangkan faktor kedua adanya pihak yang diduga turut melindunginya.
Meski demikian, polisi telah menangkap sejumlah anak buah Fredy. Sosok terbaru yang ditangkap ialah Frans selaku pengendali uang jaringan Fredy.
Foto: Frans Antony (bertopi) dikawal ketat penyidik Bareskrim Polri. (dok. Istimewa)
Peran Frans Pengendali Uang
Brigjen Eko menyebut Frans merupakan pengendali keuangam jaringan Fredy. Frans juga diduga mengatur pasokan narkoba jaringan Fredy di Indonesia.
"Frans Antony bukanlah pelaku biasa, melainkan pengendali keuangan, pengendali lapangan, dan pengendali operasional dari sindikat narkotika pimpinan Freddy Pratama," ujar Brigjen Eko.
"Frans Antony juga diduga kuat membantu Fredy Pratama dalam peredaran narkoba di Indonesia," lanjutnya.
Eko menduga narkoba yang didistribusikan Frans diduga berasal dari Malaysia dan Thailand. Barang haram itu masuk ke Indonesia melalui jalur ilegal.
"Narkoba ini diduga kuat masuk dari Malaysia dan Thailand melalui jalur laut dan darat yang ilegal," ujar Eko.
Narkoba yang didistribusikan Frans pun jumlahnya fantastis. Setiap bulan, narkoba yang dikirim bisa hingga 500 kg.
"Setiap bulannya sindikat ini mampu menyelundupkan segala jenis narkoba dengan jumlah mulai dari 100 kg sampai dengan 500 kg," pungkasnya.
Frans Antony dan Fredy Pratama merupakan teman semasa SMA di Kalimantan Selatan (Kalsel). Fredy Pratama memulai bisnis haramnya di Malang, Jawa Timur.
"Frans Antony merupakan orang terdekat Fredy Pratama dan pernah satu SMA di Kalsel. Fredy memulai dan mengendalikan awal jaringan narkoba dari Malang," lanjutnya.
Frans Kerap Pindah Tempat di Thailand
Brigjen Eko menyebut Frans kerap berpindah-pindah tempat selama pelarian di Thailand. Dia menyebut Frans terakhir menetap selama 2 tahun Narasiri.
"Frans Antony melarikan diri dengan cara berpindah-pindah tempat di Thailand," kata Eko.
Eko mengatakan Frans diduga berpindah tempat dibantu orang suruhan Fredy Pratama. Menurutnya, orang suruhan Fredy itu berkewarganegaraan Thailand.
"Dalam pelariannya, Frans Antony dibantu oleh orang suruhan dari Freddy Pratama yang merupakan WN Thailand. Frans Antony sempat berpindah-pindah tempat mulai dari daerah Phatthanakan sampai akhirnya menetap kurang lebih selama 2 tahun di daerah Narasiri, Thailand," kata Eko.
Pelarian Frans kemudian berakhir di Malaysia pada Kamis (18/6). Eko mengatakan Frans masuk ke wilayah Malaysia dengan cara ilegal.
"Frans Antoni juga dibantu oleh orang suruhan dari Fredy Pratama saat memasuki wilayah Malaysia secara ilegal sebelum akhirnya berhasil diamankan oleh tim delegasi Polri, di Kuala Lumpur," ujarnya.
Modus Tukar Duit di Money Changer
Eko menyebut jaringan Fredy menyamarkan hasil kejahatan lewat penukaran uang di money changer. Biasanya, kata Eko, sindikat ini melakukan penukaran pecahan SGD 1.000.
"Uang hasil penjualan narkotika tersebut kemudian dikumpulkan dan diangkut langsung oleh Frans Antony," ujar Eko.
Metode itu disebut menjadi celah utama untuk menyamarkan uang haram sebelum dibawa ke luar negeri. Polisi menduga pengangkutan uang dari Indonesia ke Thailand diatur oleh Frans secara rutin dan terstruktur selama 7 tahun.
Pengiriman uang diduga dilakukan dua hingga tiga kali setiap bulan sejak 2017 hingga 2023. Total pengangkutan mencapai 168 kali.
"Dia bertindak sebagai kurir sekaligus pengawas utama untuk memastikan dana tiba dengan selamat ke tangan pimpinan sindikat," ucapnya.
Rp 1 M Sekali Kirim
Polisi menduga jumlah minimal uang yang dikirim dari RI ke Thailand dalam sekali angkut mencapai Rp 1 miliar dalam pecahan SGD 1.000. Polisi menduga Frans menerima uang tunai hasil penjualan narkoba dari KI alias Uncle sebanyak dua kali dengan nilai SGD 1,2 juta.
Penyerahan itu terjadi pada 4 November 2019 dan 31 Agustus 2020. Penerimaan duit itu diduga memperkuat posisi Frans sebagai bendahara sindikat Fredy Pratama.
Frans juga diduga menguasai tiga rekening atas nama adik kandungnya. Rekening tersebut diduga dipakai untuk menampung duit.
Kini, Frans telah tiba di Bareskrim Polri. Eko menegaskan pihaknya terus memburu Fredy Pratama.
"Penyidikan akan difokuskan pada pengungkapan seluruh aliran dana dan jaringan pendukung, termasuk upaya pengejaran subjek red notice atas nama Fredy Pratama," ucapnya.
(haf/haf)

















































