Jakarta -
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth menyampaikan duka cita yang mendalam atas peristiwa longsor yang terjadi di TPST Bantargebang yang mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan dua orang lainnya selamat, pada Minggu (8/3/2026).
Menurutnya, peristiwa tersebut dinilai sebagai tragedi kemanusiaan yang tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi peringatan serius mengenai kondisi pengelolaan sampah di Jakarta yang semakin mengkhawatirkan.
"Saya turut berduka cita yang mendalam atas peristiwa longsor yang terjadi di TPST Bantargebang," ujar Kenneth dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, TPST Bantargebang selama ini menampung sebagian besar sampah dari Jakarta dengan volume yang sangat besar setiap harinya. Kondisi tersebut membuat beban timbunan sampah terus meningkat dari waktu ke waktu.
"Tanpa penataan yang serius dan sistem pengelolaan yang lebih modern, risiko bencana seperti longsor, kebakaran, pencemaran lingkungan hingga ancaman keselamatan bagi para pekerja dan masyarakat sekitar akan terus terjadi," bebernya.
Pria yang akrab disapa Bang Kent itu meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, segera melakukan investigasi menyeluruh terkait penyebab longsor tersebut. Evaluasi dinilai penting dilakukan terhadap sistem keamanan, manajemen penumpukan sampah, hingga standar keselamatan bagi para pekerja yang beraktivitas di kawasan TPST Bantargebang.
"Saya meminta Pemprov DKI segera melakukan evaluasi total terhadap sistem pengelolaan dan keamanan di Bantargebang. Keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan fasilitas sebesar ini," ujar Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu.
Lebih lanjut, Kent menilai peristiwa ini harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan besar terhadap sistem pengelolaan sampah di Jakarta. Selama ini, pengelolaan sampah masih sangat bergantung pada metode penumpukan atau landfill yang semakin hari semakin penuh.
"Jakarta itu sangat membutuhkan transformasi sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, berkelanjutan dan berbasis teknologi," ujar Ketua IKAL PPRA LXII Lemhannas RI itu.
Menurutnya, beberapa langkah strategis yang dinilai perlu segera dilakukan antara lain memperkuat program pengurangan sampah dari sumbernya melalui pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Selain itu, pemerintah juga diminta memperluas jaringan bank sampah di tingkat RW dan kelurahan, serta meningkatkan edukasi masyarakat agar sampah organik dan anorganik dapat dipisahkan sejak awal.
"Dengan cara seperti itu, volume sampah yang masuk ke TPST Bantargebang dapat ditekan secara signifikan," sambungnya.
Di sisi lain, Kent juga mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi seperti waste to energy, refuse derived fuel (RDF), serta fasilitas pengolahan kompos untuk sampah organik. Diversifikasi metode pengolahan ini dinilai sangat penting agar Bantargebang tidak lagi menjadi satu-satunya tumpuan pembuangan akhir bagi sampah Jakarta.
"Penataan kawasan TPST Bantargebang harus menjadi prioritas. Sistem zonasi penumpukan sampah perlu diperbaiki agar tidak lagi terjadi penumpukan yang terlalu tinggi dan berpotensi menimbulkan longsor. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti sistem drainase, penguatan lereng hingga sistem pemantauan stabilitas timbunan sampah perlu diperbarui dengan standar keselamatan yang lebih ketat," tutur Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BAGUNA) DPD PDI Perjuangan Jakarta itu.
Kent juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap para pekerja dan pemulung yang beraktivitas di kawasan Bantargebang. Mereka merupakan bagian penting dalam ekosistem pengelolaan sampah, namun kerap berada dalam kondisi kerja yang berisiko tinggi. Karena itu, pemerintah diminta memastikan adanya perlindungan keselamatan kerja, penyediaan alat pelindung diri, serta sistem pengawasan yang lebih baik bagi para pekerja di kawasan tersebut.
Ia pun menegaskan, akan terus mengawal pembenahan tata kelola sampah agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa depan. Tragedi ini diharapkan menjadi titik balik untuk mempercepat reformasi sistem pengelolaan sampah di Jakarta agar lebih aman, modern dan berkelanjutan.
"Sekali lagi, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Semoga para korban yang meninggal dunia mendapatkan tempat terbaik, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan dalam menghadapi musibah ini," pungkasnya.
Perlu diketahui sebelumnya, sebanyak enam korban insiden longsor sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, berhasil ditemukan pada Minggu (8/3/2026) malam. Data korban tercatat hingga pukul 20.15 WIB.
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari mengatakan, dari enam korban tersebut dua orang ditemukan selamat, sementara empat lainnya meninggal dunia.
"Dua orang ditemukan selamat, empat meninggal dunia," ujar Desiana, Minggu (8/3/2026).
Data korban hingga pukul 20.15 WIB
- Korban selamat:
1. Setiabudi (L)
2. Johan (L)
- Korban tewas:
1. Enda Widayanti (25) (P)
2. Sumine (60) (P)
3. Dedi Sutrisno (L)
4. Irwan Suprihatin (L)
(ega/akd)















































