Jakarta -
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, membuka keran air bersih merupakan hal sederhana. Namun bagi warga Desa Tautpah, Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, mendapatkan air bersih selama bertahun-tahun adalah perjuangan yang melelahkan.
Untuk memperoleh air, warga harus berjalan jauh berkali-kali setiap hari. Waktu dan tenaga banyak terpakai hanya untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga.
Desa Tautpah sendiri memiliki jumlah penduduk sebanyak 1.211 jiwa yang tersebar dalam 302 kepala keluarga. Hanya satu dusun dan sebagian wilayah dusun lainnya yang memiliki akses air bersih, melayani sekitar 536 jiwa atau 44,26% dari total penduduk. Sementara itu, sebanyak 675 jiwa atau 55,74% lainnya belum memiliki akses layak terhadap air bersih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Solar Chapter
Perubahan mulai terjadi pada 12 Januari 2026. Solar Chapter bersama masyarakat Desa Tautpah, Edwint & Beatrice Foundation, dan Cikarang Listrindo berhasil membangun sistem penyediaan air bersih berbasis energi surya dengan memanfaatkan Mata Air Sunina sebagai sumber utama yang memiliki debit 1,25 liter per detik.
Sistem ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat hingga sekitar 40.500 liter per hari.
Infrastruktur yang dibangun mencakup instalasi pompa tenaga surya, 10 panel surya, serta jaringan distribusi air yang menjangkau wilayah yang sebelumnya belum terlayani. Melalui implementasi ini, sebanyak 675 jiwa dari 127 kepala keluarga kini mendapatkan akses air bersih yang lebih mudah, aman, dan berkelanjutan.
Kepala Desa Tautpah, Tarcisius Sako mengatakan dirinya merasa terharu melihat betapa derasnya air mengalir dan memenuhi bak resevoir di Desa nya.
"Sejujurnya, secara pribadi saya belum pernah menyaksikan hal seperti ini sebelumnya. Sebagai pemimpin, saya merasa sangat terharu melihat betapa besar air yang kini mengalir dan memenuhi bak reservoir. Air ini benar-benar telah menjawab seluruh dahaga masyarakat kami di sini," ujar Tarcisius Sako, dalam keterangan tertulis, Senin (16/3/2026).
Selain melayani rumah warga, sistem ini juga menyediakan air untuk berbagai fasilitas penting desa seperti satu PAUD, satu sekolah dasar, satu gereja, dan satu polindes.
Dampaknya cukup signifikan bagi kehidupan sehari-hari warga. Akses air bersih yang baru mampu mengurangi jarak perjalanan pulang-pergi warga hingga 95%, dari sebelumnya 2.166 meter menjadi hanya 103 meter dari rumah.
Foto: Solar Chapter
Dari sisi ekonomi, masyarakat juga tidak lagi perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli atau mengangkut air. Diperkirakan setiap kepala keluarga dapat menghemat sekitar Rp 80.000 per bulan dibandingkan kondisi sebelumnya.
Penghematan waktu dan biaya tersebut berdampak langsung pada peningkatan produktivitas sektor pertanian dan peternakan. Selain itu, ibu rumah tangga memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan kegiatan ekonomi tambahan, sementara anak-anak dapat lebih fokus pada pendidikan tanpa harus membantu mengambil air setiap hari.
Secara teknis, proyek ini merealisasikan instalasi pompa tenaga surya dengan kapasitas aliran 5,4 meter kubik per jam untuk 10 panel surya. Selain itu, dipasang pula sekitar 1.400 meter pipa distribusi HDPE untuk memperluas jangkauan layanan air bersih kepada masyarakat.
Koordinator dan Fasilator Lapangan, Deni Nahak mengatakan proses pembangunan dilakukan selama lima hari dengan melibatkan tim proyek dan warga desa. Berbagai tantangan sempat dihadapi selama pelaksanaan di lapangan.
"Pada saat pemindahan lokasi panel, (kami) melewati daerah curam dan memakan waktu lama," ujar Deni.
Meski begitu, semangat warga desa tidak pernah padam. Dari bapak, mama, hingga anak-anak turut bergotong royong membantu proses pembangunan.
"Setelah pembentangan pipa, mereka (anak-anak) semangat sekali membantu menggali dan benam pipa dekat lokasi sekolah mereka," tambahnya.
Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memastikan keberlanjutan jangka panjang.
Komite air desa telah dibentuk dan Peraturan Kepala Desa terkait pengelolaan sistem air bersih juga telah ditetapkan untuk memastikan operasional serta pemeliharaan sistem tetap berjalan.
Ke depan, pengembangan lanjutan juga telah direncanakan. Pada Juli 2026, akan dilakukan pembangunan reservoir berkapasitas 50 meter kubik serta perluasan jaringan distribusi air.
Sementara itu, Edwint dan Beatrice Foundation, Edwint Widjaya berharap bahwa projek Water for Tautpah bisa menjadi contoh akses air bersih bukan hanya sesaat.
"Harapan kami dari Edwint & Beatrice Foundation, project Water for Tautpah bisa jadi contoh bahwa akses air bersih yang bukan sekadar bantuan sesaat, tapi fondasi untuk kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat desa. Ke depannya, semoga program air Solar Chapter bisa menjangkau lebih banyak daerah dan membangun dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat di NTT," ujar Edwint Widjaya.
Melalui program ini, Solar Chapter menegaskan komitmennya dalam menyediakan solusi akses air bersih yang berkelanjutan dengan memanfaatkan energi terbarukan. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah terpencil Indonesia.
Dengan kolaborasi berbagai pihak, harapannya air bersih tidak hanya mengalir hari ini, tetapi juga terus tersedia bagi generasi mendatang di Desa Tautpah.
(akd/ega)

















































