TNI Hadir di Titigi: Layanan Kesehatan Gratis di Lereng Gunung Intan Jaya

2 days ago 3

INTAN JAYA - Jarak yang membentang dan medan terjal di pegunungan Papua kerap menjadi penghalang tak kasat mata bagi warga untuk mendapatkan layanan kesehatan. Di Kampung Titigi, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, kondisi ini mendorong hadirnya solusi dari tangan prajurit TNI.

Sebanyak 12 tenaga kesehatan dari Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Infanteri (Yonif) 500/Sikatan, dipimpin oleh Bintara Kesehatan Serda Andi Kresna, tak gentar menembus medan berat. Mereka bergerak dari rumah ke rumah pada Jum'at (28/11/2025), membawa serta perlengkapan medis, obat-obatan esensial, vitamin, dan alat pengukur tekanan darah, untuk memberikan Pelayanan Kesehatan (Yankes) gratis langsung kepada masyarakat.

Komandan TK Titigi, Kapten Inf. Yosman D. Imbiri, menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari kebutuhan riil warga, bukan sekadar agenda seremonial.

"Puskesmas itu ada, tetapi ongkos menuju ke sana yang jadi tembok besar bagi warga. Kalau kami tidak datang, banyak anak dan orang tua akan menahan sakit lebih lama, " ungkapnya dengan nada prihatin.

Lebih jauh, Yosman menjelaskan bahwa pendekatan layanan langsung ini juga menjadi strategi penting untuk meredam ketegangan sosial di wilayah yang kerap diwarnai dinamika keamanan.

"Kalau negara tidak hadir dengan wajah manusiawi, yang didengar warga hanya bunyi ancaman. Hari ini kami ingin bunyinya berbeda: bunyi langkah kaki dan doa, " tuturnya, menyiratkan harapan akan terciptanya kedekatan emosional.

Keluhan senada datang dari tokoh adat Kampung Titigi, Niko Sani. Ia menekankan bahwa akses medis seharusnya tidak hanya terfokus pada ketersediaan fasilitas fisik.

"Secara fisik fasilitas kesehatan ada, tapi ibu-ibu dan anak sering tidak bisa ke sana. Mereka bukan tidak mau berobat, tapi jalannya jauh, mahal, dan melelahkan, " jelasnya, menggambarkan realitas pahit yang dihadapi warganya.

Menyikapi langkah Satgas Yonif 500/Sikatan, Panglima Komando Operasi Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, mengapresiasi model operasi teritorial yang dinilainya sangat tepat untuk wilayah rentan seperti Papua.

"Di Papua, yang kami hadapi bukan hanya kelompok separatis, tetapi juga jarak dan ketertutupan informasi. Hari ini prajurit tidak sedang mengobati perang, tetapi mengobati keterbatasan, " tegas Mayjen TNI Lucky Avianto dalam pernyataan resminya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan humanis menjadi kunci utama di luar aspek operasi keamanan.

"Prajurit menang ketika mereka bisa membuat rakyat berhenti takut pada sakit dan mulai percaya pada negara, " ujarnya, menekankan pentingnya membangun kepercayaan melalui tindakan nyata.

Dampak positif program ini juga dirasakan di sektor pendidikan. Kepala SD Rimba YPPK Yan Smith Mumugu 2, Sinta, mengakui adanya peningkatan signifikan.

"Sebelum intervensi kesehatan dan gizi, kehadiran siswa turun saat musim hujan. Sekarang anak lebih kuat, mau berjalan ke sekolah, dan orang tua makin percaya melapor jika ada yang sakit, " katanya, menunjukkan korelasi positif antara kesehatan anak dan semangat belajar.

Meskipun Kampung Titigi dalam beberapa bulan terakhir kerap dilanda ancaman dari kelompok bersenjata, kehadiran Satgas justru membawa gelombang rasa aman yang berbeda. Keamanan ini bukan bersifat koersif, melainkan sosial. Mama Yuliana (58), salah seorang warga yang ditemui di lokasi, mengakhiri percakapannya dengan sebuah kalimat yang merangkum esensi kehadiran TNI di sana.

"Kalau mereka (kelompok bersenjata) datang dengan ancaman, Bapak TNI datang dengan obat. Itu yang kami pegang, " tuturnya penuh harap.

Di tengah narasi yang kerap menggambarkan Papua sebagai zona konflik, kisah di Titigi ini membuktikan bahwa TNI hadir menembus honai bukan dengan senjata, melainkan stetoskop dan obat-obatan. Sebuah upaya tulus yang menggeser narasi teror menjadi cerita pelayanan dan kemanusiaan.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |