TNI Hadir di Kusage: Kabut Tak Halangi Layanan Medis dan Sapa Warga

1 day ago 4

INTAN JAYA - Di Kampung Kusage, Distrik Sugapa, Intan Jaya, Sabtu (29/11/2025), kabut pagi yang menyelimuti tak mampu menutupi denyut kehidupan. Di tengah terjalnya medan yang membuat akses medis memakan waktu berjam-jam, prajurit Satgas Yonif 712/Wiratama (WT) justru hadir membawa secercah harapan melalui tenda layanan kesehatan lapangan. Kali ini, misi mereka bukanlah tentang pertempuran, melainkan tentang merajut kembali koneksi melalui Komunikasi Sosial (Komsos) dan memberikan akses layanan medis langsung ke jantung masyarakat.

Pendekatan Komsos ini menempatkan warga sipil sebagai poros utama. Lebih dari sekadar dialog, tim kesehatan pos TNI sigap melakukan pemeriksaan tekanan darah, memberikan perawatan luka, mendistribusikan makanan tambahan untuk anak-anak, serta menawarkan konsultasi medis tanpa dipungut biaya. Sebuah wujud nyata negara hadir di titik terjauh.

“Komsos kami gelar rutin, bukan musiman. Kami ingin mendengar langsung apa yang warga butuhkan. Rasa aman harus sejalan dengan akses kebutuhan dasar, terutama kesehatan dan pemenuhan gizi anak, ” tegas Komandan Taktis (Dansatgas) TK Eknemba, Kapten Inf Adryan Nanda.

Peran TNI ini disambut hangat oleh pemerintah daerah. Penjabat (Pj) Bupati Intan Jaya, Apolos Bagau, mengakui bahwa kehadiran Satgas sangat krusial dalam mengisi kekosongan layanan dasar yang belum terjangkau optimal.

“Realitas di pegunungan ini, biaya akses ke layanan kesehatan mahal dan tidak selalu tersedia tenaga medis. Ketika Satgas menurunkan bintara kesehatan ke kampung, itu membantu kami menjaga hak layanan dasar warga tetap tersambung, ” ujar Apolos.

Tak hanya itu, Komsos juga berdampak pada keberanian warga untuk beraktivitas. Kepala Distrik Sugapa, Matius Kogoya, melihat tenda medis TNI sebagai ruang aman yang memperkuat interaksi.

“Warga lebih berani datang, karena mereka merasa tidak dihakimi, tidak ditakuti, tetapi dilindungi. Ketika kesehatan diperiksa dan anak diberi makanan tambahan, suasana psikologis kampung membaik, ” jelas Matius.

Di bawah tenda layanan, senyum lega terpancar dari wajah Mama Sumen, tokoh perempuan kampung. Ia menyambut kehadiran prajurit TNI bagai saudara yang pulang membawa kabar baik.

“Kami bukan butuh wacana. Kami butuh tekanan darah dicek, luka diobati, dan anak kenyang. Hari ini kami dapat itu. Negara tidak jauh dari kami lagi, ” tuturnya penuh haru.

Kisah pilu datang dari Bapak Lame Dugimba (43). Anaknya telah dua pekan menderita batuk dan demam, namun puskesmas distrik kehabisan obat.

“Saya pikir anak saya harus dibawa turun (ke distrik lain), tapi ongkos motor mahal. Hari ini anak kami diperiksa, dikasih obat, dan bubur hangat. TNI datang bukan bawa masalah, TNI datang bawa anak kami sembuh. Itu buat kami hormat, ” ungkap Lame dengan mata berkaca-kaca.

Menanggapi hal ini, Pangkoops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, memandang program Komsos sebagai strategi pertahanan sosial yang relevan.

“Keamanan di pedalaman bukan hanya menghitung ancaman senjata, tetapi menghitung denyut kebutuhan rakyat. TNI tidak boleh jadi penonton ketika guru, nakes, dan anak-anak tidak punya akses perlindungan kehidupan, ” tegas Mayjen Lucky.

Senada, Peneliti Ahli Sosial-Politik Papua dari BRIN, Dr. Adriana Elisabeth, menilai pendekatan Komsos dan tenda kesehatan merupakan strategi human security yang efektif.

“Pendekatan teritorial yang dialogis dan berorientasi layanan dasar jauh lebih efektif menekan jarak ketidakpercayaan. Ini bukan soal citra, ini soal fungsi negara yang diwujudkan langsung oleh personel di titik paling jauh republik, ” ujar Dr. Adriana.

Menjelang siang, agenda ditutup dengan pengantaran obat ke rumah-rumah lansia yang tak mampu hadir. Di antara keindahan alam Intan Jaya yang diselimuti kabut, berita hari itu adalah tentang kelegaan yang kembali dirasakan, tentang kehidupan yang kembali berdenyut dengan harapan.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |