PUNCAK - Kabut tebal kerap menyelimuti puncak Distrik Beoga, Papua Tengah, namun di Kampung Dangbet, Sabtu (29/11/2025), mentari pagi menyapa lebih awal. Bukan untuk berkebun, warga berbondong-bondong mengantre di bawah arahan Pos Dangbet Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 732/Banau. Mereka menanti kehadiran program 'Pastoor', kependekan dari Pelayanan Kesehatan Terpadu.
Inisiatif yang digagas Satgas Pamtas ini menjadi jembatan kesehatan krusial menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, berpegang teguh pada prinsip 'human security first'. Sepanjang hari, tim medis lapangan berhasil menjangkau 63 warga dari tiga dusun terpencil, memberikan perhatian kesehatan yang sangat dibutuhkan.

Sertu Adi Utomo, bintara kesehatan yang memimpin tim medis, menuturkan keluhan paling umum yang ditangani. "Mayoritas adalah infeksi saluran pernapasan, kelelahan otot pinggang, dan gejala flu musiman. Ini tak lepas dari cuaca pegunungan yang ekstrem di ketinggian lebih dari 1.600 mdpl, " jelasnya.
"Puskesmas sangat jauh, medan ekstrem. Jadi hari ini kami lakukan jemput pasien, bukan jemput bola lagi—kami jemput rumah ke rumah. Fokusnya pengobatan, deteksi, dan edukasi dasar kesehatan keluarga, " ujar Sertu Adi Utomo, menambahkan bahwa pendekatan ini sangat vital di wilayah terpencil.
Koordinasi medis dari Sugapa pun turut terjalin. Kepala Puskesmas Beoga, dr. Naomi Tabuni, melalui radio distrik, mengonfirmasi tingginya angka penyakit di wilayahnya.
"Data penyakit kami di Beoga meningkat sejak akhir Oktober karena musim pancar flu dan ISPA. Layanan TNI di lapangan membantu memperpendek rantai penundaan pemeriksaan pasien, terutama lansia dan anak-anak, " ungkap dr. Naomi, menyoroti peran penting Satgas dalam efektivitas penanganan medis.
Komandan Pos Dangbet, Kapten Inf. Henry R. Hutabarat, memandang program Pastoor bukan sekadar pemberian obat gratis. Baginya, ini adalah upaya strategis untuk mencegah 'penundaan kesehatan' yang berpotensi menggerus produktivitas warga.
"Sakit pinggang dan flu di sini bukan sepele. Itu penyakit medan yang bisa melumpuhkan aktivitas keluarga. Kami bertugas jadi pelindung garis negara sekaligus perawat denyut kampung, " tegas Kapten Henry, menggambarkan misi ganda yang diemban prajuritnya.
Pengalaman Mama Marline Wenda (57) menjadi potret nyata dampak program ini. Ia mengaku telah lebih dari empat bulan menahan keluhan sakit kepala dan batuk kronis tanpa diagnosis pasti.
"Kalau kami sakit, kami pertaruhannya bukan hanya sembuh, tapi jarak. Obat di sini mahal karena ongkos angkut. Hari ini TNI datang cek tensi, kasih obat, dan vitamin. Ini buat kami seperti hari libur dari rasa sakit, " tuturnya dengan nada lega.
Peran Satgas dalam membangun kepercayaan juga diakui oleh Ketua Dewan Adat Komunitas Dangbet, Melkianus Sani (62).
"Kalau TNI hadir dan kami sehat, anak-anak juga sekolah. Kalau anak sekolah, kampung aman. Itu logika rakyat di pedalaman, " papar Melkianus, menekankan keterkaitan antara kesehatan, pendidikan, dan keamanan di komunitasnya.
Hingga sore, kegiatan pelayanan kesehatan rampung tanpa kendala berarti, meski kabut malam mulai menutup akses jalan. Bantuan medis yang disalurkan meliputi obat flu, analgesik otot, antibiotik ringan, vitamin anak, serta layanan cek tekanan darah. Seluruh kegiatan didokumentasikan secara rinci oleh Dispen Satgas dan perangkat distrik.
Program Pastoor dijadwalkan akan berlanjut setiap pekan sepanjang Desember 2025, menegaskan komitmen Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 732/Banau dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di ujung negeri.
















































