Satgas Yonif 732/Banau: Klinik Berjalan Jangkau Warga Wangbe

2 days ago 1

PUNCAK - Di tengah denyut kehidupan di Kampung Marilakuin, Distrik Wangbe, Puncak, Papua Tengah, kehadiran prajurit Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 732/Banau membawa angin segar. Kamis (27/11/2025), Pos Marilakuin meluncurkan inisiatif unik bertajuk “Pastoor” atau Pemeriksaan Kesehatan Door to Door. Bukan menunggu warga datang, tim kesehatan yang dipimpin Bintara Kesehatan Serda Derek justru bergerak mendatangi rumah-rumah warga, khususnya kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak.

Wilayah Wangbe, yang belakangan ini kerap disorot karena tantangan keamanan, ternyata juga bergulat dengan krisis akses layanan dasar. Jarak dan medan yang sulit menjadi penghalang utama warga pegunungan untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat. Di sinilah Satgas 732/Banau merangkai strategi teritorialnya: keamanan yang lahir dari pelayanan, bukan semata-mata dari kekuatan senjata. Personel bergerak membawa perlengkapan medis dan obat-obatan langsung ke pelukan honai warga.

Komandan Pos Marilakuin, Kapten Inf Frincen Sinaga, menegaskan bahwa pendekatan ini lebih dari sekadar program, melainkan sebuah adaptasi mendalam terhadap realitas lapangan.

Ia mengungkapkan, “Masyarakat di sini bukan menolak negara, mereka menolak ketidakhadiran negara. Maka kami yang harus mendatangi mereka. Di perbatasan, stetoskop dan tensimeter kadang lebih efektif dari senjata untuk membangun rasa aman, ” katanya saat ditemui tim media di posnya.

Selama sesi “Pastoor”, tim medis tak hanya melakukan pemeriksaan vital seperti tekanan darah. Mereka juga sigap menangani keluhan ringan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan pencernaan. Pemberian vitamin dan tablet penambah darah untuk ibu hamil menjadi prioritas, sementara anak-anak mendapatkan vitamin serta edukasi singkat tentang kebersihan diri dan lingkungan melalui contoh praktis di depan mata mereka.

Bagi Alias Waker (55), seorang warga yang menerima pemeriksaan di honainya, layanan ini sungguh berarti. Ia berbagi cerita, “Kalau demam, kami biasa jalan kaki 2–3 jam. Sekarang TNI datang sendiri, kami rasa seperti punya puskesmas berjalan. Kami lihat mereka jaga kampung, tapi juga jaga nyawa kami, ” tuturnya penuh rasa syukur.

Ns. Oktovianus Kogoya, Kepala Puskesmas Distrik Wangbe, menyambut baik kolaborasi ini. Ia melihat langkah Satgas selaras dengan upaya Pemerintah Daerah untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan di area terpencil.

“Kolaborasi ini sangat membantu skrining kesehatan warga yang kami belum mampu jangkau rutin. Yang paling penting, ini menciptakan rasa percaya sehingga masyarakat tidak takut menyampaikan keluhan medis mereka, ” jelas Oktovianus saat dihubungi, Kamis.

Dr. Adriana Elisabeth, pengamat isu kawasan timur dari LIPI/BRIN, memandang positif inisiatif “Pastoor”. Menurutnya, layanan door to door seperti ini secara efektif menutup ruang kekosongan layanan yang kerap dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menyebarkan narasi anti-negara.

“Di Papua Pegunungan, kehadiran aparat akan dinilai dari kedekatan keseharian, bukan hanya dari fungsi pengamanan. Ketika layanan menyentuh rumah warga, legitimasi negara menguat, dan pengaruh narasi kekerasan melemah, ” papar Dr. Adriana.

Satgas Yonif 732/Banau berkomitmen untuk melanjutkan program “Pastoor” secara berkala hingga momen Natal dan Tahun Baru. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari rangkaian program “SAHABAT BANAU”, sebuah upaya berkelanjutan untuk memastikan bahwa keamanan, toleransi, dan kesejahteraan dapat berjalan beriringan di tanah perbatasan.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |