INTAN JAYA - Deretan honai di Kampung Eknemba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Jum'at (28/11/2025), diramaikan oleh kehadiran yang berbeda dari rutinitas biasanya. Personel Satgas Pamtas Mobile Yonif 712/Wiratama (WT) menggelar pelayanan kesehatan gratis (yankes), menyasar warga di daerah pegunungan ekstrem dengan akses kesehatan yang sangat terbatas.
Sejak pagi buta, prajurit kesehatan Satgas telah siaga, memberikan pemeriksaan tekanan darah, perawatan luka ringan, distribusikan obat dasar, vitamin, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Semua itu dilakukan langsung di pos yang difungsikan sebagai klinik darurat bergerak, sebuah upaya nyata untuk menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Kapten Inf. Adryan Nanda, Komandan Titik Kuat (TK) setempat, menegaskan bahwa program ini adalah bagian dari strategi teritorial yang murni merespons kebutuhan warga, bukan sekadar pencitraan.
“Kalau rakyat menunda ke puskesmas karena ongkos dan jarak, maka kami wajib mendekatkan layanan ke rakyat. Di sini, tantangan terbesar bukan peluru, tapi medan dan keterpencilan, ” ungkap Kapten Adryan di Pos Eknemba, dengan nada mantap.
Dalam percakapan yang hangat dan tanpa sekat formalitas, Niko Sani, tokoh masyarakat sekaligus kepala suku adat Eknemba, berbagi cerita tentang realitas pahit yang dihadapi warganya. Ia memaparkan bahwa perjalanan ke fasilitas kesehatan pemerintah bisa memakan waktu berjam-jam dengan biaya yang memberatkan.
“Masyarakat bukan menghindari berobat, tapi harus memilih antara sembako atau ongkos ke puskesmas. Saat sakit, mereka tidak hanya butuh fasilitas, tetapi butuh akses, itu yang selama ini tidak mereka punya, ” ujarnya, menyuarakan keresahan yang mendalam.
Yunus Namiangge (47), seorang pengelola kebun komunitas, merasakan perubahan nyata sejak pos TNI beroperasi.
“Dulu kalau anak saya luka di kebun, saya simpan dulu, tunggu hari baik turun gunung. Sekarang ada yang datang jemput sakit kami. Ini yang kami syukuri, ” katanya, matanya berkaca-kaca penuh rasa terima kasih.
Meskipun bertugas menjaga keamanan wilayah, Satgas mengakui bahwa ancaman kelompok bersenjata di Intan Jaya secara langsung memengaruhi layanan publik, terutama bagi tenaga pendidik dan kesehatan. Namun, komandan satgas memastikan bahwa layanan kesehatan akan terus berjalan tanpa pendekatan kekerasan.
Panglima Komando Operasi TNI Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, melihat pelayanan kesehatan di Eknemba sebagai strategi krusial dalam membangun legitimasi negara di mata rakyat.
“Di wilayah pegunungan seperti Sugapa, yang kami bangun bukan barak, tapi akses, rasa aman, dan kepercayaan. Kepercayaan tidak dimenangkan dengan laras, tapi dengan kehadiran yang konsisten, ” jelas Mayjen Lucky dalam keterangannya.
“Sakit masyarakat adalah ukuran keberhasilan tugas kami. Ketika rakyat mau datang ke pos melapor keluhannya, itu berarti pos itu bukan ditakuti, tapi dipercaya.”
Lebih lanjut, Mayjen Lucky menambahkan bahwa seluruh program kesehatan keliling ini selalu dikoordinasikan dengan pihak sekolah dan dinas kesehatan daerah. Tujuannya untuk memastikan data warga, distribusi obat, dan pemeriksaan berjalan tepat sasaran. Sinta Wonda, Kepala SD Rimba YPPK Yan Smith Mumugu 2, yang kerap menangani siswa dengan luka akibat aktivitas kebun dan sungai, mengakui kehadiran program kesehatan Satgas sangat membantu aktivitas sekolah.
“Sekolah kami tidak jauh dari Eknemba. Ketika orang tua pulang dari pos membawa obat, anak mereka tidak bolos lagi. Mereka sembuh lebih cepat dan lebih sering hadir di kelas, ” tuturnya.
Program klinik darurat yang terintegrasi di dalam pos, layanan kesehatan keliling yang proaktif, serta edukasi PHBS di Eknemba membuktikan bahwa TNI hadir untuk menjembatani akses, memotong jarak, dan meredam ketakutan warga terhadap layanan medis di tanah kelahiran mereka sendiri. Di Lembah Eknemba, “zona sunyi” kini tak lagi berarti “zona tanpa layanan”. Pagi itu tidak hanya membawa obat-obatan, tetapi juga pesan kuat: negara hadir dengan hati, berjalan kaki menyisir kampung, demi melindungi generasi dan kehidupan sehari-hari warga di Intan Jaya.
















































