Satgas Jemput Kesehatan Warga Pedalaman Papua di Honai

2 days ago 2

INTAN JAYA - Di tengah belantara pegunungan Papua Tengah, sebuah inisiatif luar biasa hadir untuk menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI–PNG Mobile Yonif 408/Suhbrastha, melalui Pos Wamitu, tak gentar menerjang medan terjal demi mewujudkan hak dasar kesehatan bagi masyarakat di Kampung Wamitu, Distrik Goa Balim, Kabupaten Intan Jaya. Pada Kamis, (27/11/2025), mereka menggelar pelayanan kesehatan keliling yang unik, menyasar langsung ke dalam honai, rumah adat masyarakat pegunungan.

Kegiatan ini bukan sekadar pemeriksaan medis biasa. Tim kesehatan satgas hadir di ruang paling intim warga, berinteraksi di bawah hangatnya cahaya tungku kayu bakar, menghirup aroma asap yang akrab, dan terlibat dalam percakapan yang mengalir alami. Pemeriksaan meliputi pengukuran tekanan darah, penanganan infeksi saluran pernapasan (ISPA), keluhan lambung, masalah gatal kulit, hingga pemberian vitamin esensial bagi anak-anak dan lansia. Tak lupa, obat-obatan gratis turut dibagikan, meringankan beban finansial sekaligus fisik warga.

“Masalah kami di sini bukan cuma soal fasilitas, tapi jarak. Butuh 2–3 jam jalan kaki hanya untuk periksa ke puskesmas, itu pun kalau cuaca baik, ” ungkap Nakes Dores Wenda (37), Kepala Puskesmas Pembantu (Pustu) Wamitu, yang dengan setia mendampingi tim satgas dalam upaya menjemput warga yang sakit.

Danpos Wamitu, Kapten Inf Indra Gunawan, menegaskan bahwa program layanan kesehatan keliling ini lahir dari pemahaman mendalam akan realitas geografis dan kebutuhan mendesak warga. Ini bukan sekadar agenda seremonial.

“Di pedalaman, rasa sakit tak bisa diminta datang ke fasilitas. Maka kami yang harus datang menjemput mereka. Honai bukan hanya ruang budaya, tapi ruang pertama layanan kesehatan warga. Di situlah kami ingin hadir, ” ujar Kapten Indra usai memimpin kegiatan tersebut.

“Kami membawa obat, pemeriksaan, tetapi yang lebih penting itu keberanian warga untuk menyampaikan apa yang dirasakan tubuh mereka. Itu baru langkah awal sehat yang sesungguhnya, ” tambahnya, menekankan pentingnya dialog terbuka dalam proses penyembuhan.

Romi Sani (41), salah seorang warga Wamitu yang menerima pemeriksaan ISPA akibat perubahan suhu ekstrem di pegunungan, merasakan dampak emosional yang mendalam. Layanan door-to-door ini membuatnya merasa benar-benar diperhatikan dan dihargai sebagai bagian dari bangsa.

“Kalau TNI tidak masuk ke honai, kami mungkin pendam sakit sendiri. Tapi mereka masuk, duduk, bicara, lalu periksa. Saya rasa inilah yang disebut negara menjangkau kami, ” tutur Romi dengan nada haru.

Hal senada diungkapkan Bapak Romi (45), yang juga menerima layanan kesehatan langsung di honainya. Ia menilai bantuan ini menjadi angin segar, terutama menjelang perayaan hari besar keagamaan akhir tahun.

“Mereka datang ke rumah kami. Kasih obat, tapi juga kasih senyum. Kami jauh dari tempat berobat, jadi pelayanan seperti ini sangat berarti. Kalau bisa, sering-sering datang lagi. Anak-anak dan kami butuh itu, supaya bisa Natal dalam keadaan sehat, ” ucapnya penuh harap.

Tokoh adat masyarakat Goa Balim, Ondoafi Yawar Wenda (60), memberikan apresiasi mendalam atas pendekatan satgas yang memilih masuk ke honai. Baginya, ini adalah bentuk penghormatan yang mendalam.

“Masuk ke honai artinya masuk dengan hormat. Menolong orang sakit tanpa melukai budaya. Ini penting, karena pembangunan di sini harus selaras dengan cara hidup orang gunung, ” katanya, menggarisbawahi pentingnya harmonisasi antara pembangunan dan pelestarian kearifan lokal.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |