Ramadan dan Pembersihan Jiwa Bangsa

3 hours ago 1

loading...

Abdul Halim, Santri Doktoral di Universitas Jyväskylä Finlandia. Foto/Dok.Pribadi

Abdul Halim
Santri Doktoral di Universitas Jyväskylä Finlandia

APA perubahan mendasar yang ingin kita tuai sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat di akhir Ramadan nanti? Pertanyaan ini penting untuk diajukan agar hikmah bulan suci tak berhenti sebatas perayaan konsumeris-materialistik semata. Melainkan jauh lebih mendalam, yakni bagaimana jiwa bangsa dibersihkan dari segala bentuk anasir yang menghambat kemajuannya, seperti gejala pengelolaan keuangan negara yang mengenyampingkan prioritas pembangunan nasional untuk mencerdaskan dan menghadirkan kemakmuran rakyat.

Untuk meraih tujuan ini, Ramadan adalah momentum yang terbaik untuk berbenah. Tak dimungkiri, setiap orang menghendaki kebaikan di dalam dirinya, tak terkecuali di bulan suci Ramadan. Miskawayh, filsuf berkebangsaan Persia, seperti yang ia tulis di dalam Tahdib al-al-ahlaq (1899) dan Tartib al-sa'adat wa-manazil al-'ulum (1953), berpandangan bahwa kebaikan yang khas pada diri manusia adalah hidup bahagia di bawah bimbingan akal sehingga terbit kesadaran penuh di dalam jiwanya untuk senantiasa mendahulukan perbuatan yang baik dan mulia.

Terkait hal ini, Aristoteles menyebutnya sebagai kehidupan yang dipandu oleh aktivitas rasional berdasarkan kebajikan (aret?). Pada konteks ini, Aristoteles mengajak setiap pemimpin bangsa untuk kembali kepada jiwanya (Nicomachean Ethics, 2009).

Jiwa manusia, menurut Miskawayh, memiliki tiga fakultas yang saling bertautan. Pertama, fakultas rasional atau lazim disebut sebagai al-quwwa an-natiqa dan terletak pada otak manusia. Dengan anugerah akal budi ini, manusia bisa berpikir, memahami, dan melakukan pertimbangan yang logis sebelum mengambil keputusan terbaik guna menyikapi pelbagai realitas hidup di sekelilingnya.

Kedua, al-quwwa shahwiyya atau kemampuan jiwa yang berkenaan dengan kenikmatan inderawi-lahiriah, seperti makan, minum, dan hubungan seksual. Kemampuan ini terletak pada jantung manusia. Dengan kemampuan ini, manusia dituntut untuk melakoni perilaku hidup yang bersih dan sehat.

Ketiga, al-quwwa ghadabiyya atau kemampuan jiwa yang berkaitan dengan keberanian, harga diri, kemarahan, dan keinginan untuk mendominasi, serta pengambilan resiko. Miskawayh meletakkan kemampuan ini pada hati manusia. Dengan kemampuan ini, manusia memiliki kapasitas kontrol atau pengendalian diri.

Ketiga fakultas jiwa manusia di atas, bila bergerak di bawah bimbingan akal dan dikendalikan dengan baik, di antaranya dengan memanfaatkan momentum Ramadan, akan menumbuhkan kebajikan-kebajikan yang bermanfaat dan mengantarkannya ke pintu kebahagiaan yang sejati. Betapa tidak, apabila seseorang terbiasa berpikir logis, maka tumbuhlah kebijaksanaan (al-hikma) di dalam jiwanya.

Dengan bekal kebijaksanaan yang diperolehnya, ia sanggup melakoni hidup dengan sikap menahan diri dari segala perbuatan, perkataan, dan hasrat yang tidak pantas atau merendahkan martabat dirinya (al-‘iffah) dan memiliki keberanian (ash-shaja’ah) untuk mengambil keputusan hidup secara mandiri dan bertanggung jawab.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |