loading...
Zainal Abidin, Executive Director MAI Foundation MIT Sloan IDEAS Asia Pacific Fellow. Foto/istimewa
Zainal Abidin
Executive Director MAI Foundation MIT Sloan IDEAS Asia Pacific Fellow
SETIAP Iduladha, jutaan umat Islam Indonesia menyembelih hewan qurban dengan semangat keagamaan yang tinggi. Namun di balik semangat itu, ada kenyataan sosial yang kerap luput dari sorotan: daging qurban menumpuk di kota-kota besar, sementara wilayah-wilayah pelosok tak tersentuh distribusi dagingnya. Qurban telah menjadi ibadah yang nyaring di kota, tetapi sayup-sayup sampai di desa.
Potensinya sesungguhnya luar biasa. Tahun 2025, nilai transaksi qurban nasional diproyeksikan mencapai Rp27,1 triliun dari sekitar 1,92 juta pekurban, menghasilkan lebih dari 101 ribu ton daging. Namun angka besar itu belum menyentuh akar masalah. Data menunjukkan satu persen penduduk terkaya mengonsumsi 4,7 kg daging kambing dan sapi per kapita per tahun, sementara satu persen termiskin hanya 0,009 kg — selisih 517 kali lipat. Ini bukan salah angka. Ini masalah sistem.
Dua Luka di Dua Ujung Rantai
Otto Scharmer menyebut kesenjangan antara niat baik dan dampak nyata sebagai intention-impact gap. Niat pekurban tulus. Tapi sistem yang menampung niat itu bocor — dan luka terjadi di dua ujung sekaligus.
Di hilir: sebanyak 90,91 juta mustahik prioritas tersebar di desa-desa terpencil, wilayah rawan stunting, dan kantong kemiskinan yang tak terjangkau logistik distribusi qurban konvensional. Mereka lapar akan gizi bukan secara simbolik, tapi secara literal.
Di hulu: peternak rakyat yang seharusnya paling menikmati musim qurban justru semakin terdesak. Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah peternak turun drastis, populasi ternak menyusut, dan usaha ternak semakin tidak menarik bagi generasi muda. Seekor sapi yang dibesarkan selama dua belas bulan dijual dengan harga yang ditentukan makelar, jauh sebelum Iduladha tiba, karena peternak tidak punya pilihan lain.
Kenaikan harga hewan qurban yang setiap tahun ramai diberitakan? Itu rezeki pedagang sebagai price maker, bukan peternak yang cuma jadi price taker. Sistem ini timpang bukan karena ada orang jahat di dalamnya — tapi karena tidak ada yang merancangnya dengan sadar.

















































