Artikel;
Profesi dokter hewan merupakan salah satu pilar penting dalam memastikan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan. Di tengah berkembangnya sektor peternakan, meningkatnya konsumsi produk hewani, serta kemunculan berbagai penyakit zoonosis, kebutuhan terhadap tenaga veteriner di Indonesia semakin meningkat. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa jumlah dokter hewan yang tersedia masih belum mampu memenuhi kebutuhan nasional, khususnya di wilayah sentra peternakan. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan layanan kesehatan hewan belum berjalan optimal, mulai dari pemeriksaan kesehatan ternak, pengendalian penyakit, hingga pengawasan keamanan pangan asal hewan.
Dokter hewan memegang peran strategis dalam menjamin kesehatan dan produktivitas ternak. Mereka bertanggung jawab melakukan pemeriksaan kesehatan, pembinaan pemeliharaan, serta deteksi dini dan pengendalian penyakit zoonosis seperti rabies, flu burung, leptospirosis, hingga antraks. Tidak hanya bekerja di tataran teknis kesehatan hewan, dokter hewan juga menjadi pendamping bagi peternak rakyat dalam menerapkan manajemen pemeliharaan yang baik, higienis, dan produktif. Peran ini sangat krusial karena sebagian besar peternakan di Indonesia masih dikelola oleh peternak skala kecil yang membutuhkan bimbingan agar tercipta usaha ternak yang efisien dan berkelanjutan.
Kekurangan tenaga dokter hewan bukan hanya berdampak pada produktivitas sektor peternakan, tetapi juga pada sistem kesehatan masyarakat. Lebih dari 60% penyakit infeksi baru pada manusia berasal dari hewan. Karena itulah profesi dokter hewan menjadi garda terdepan dalam penerapan konsep One Health, yaitu integrasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Dalam kerangka ini, dokter hewan memiliki peran strategis sebagai penyedia informasi kesehatan kepada masyarakat, mitra pemerintah dalam pengendalian wabah, hingga bagian dari tim kesehatan lintas disiplin untuk mencegah penyebaran penyakit.
Di era modern, lingkup profesi dokter hewan semakin luas. Selain praktik klinik dan kesehatan ternak, dokter hewan kini terlibat dalam konservasi satwa liar, industri obat hewan, bioteknologi reproduksi, hingga penerapan teknologi digital seperti telemedicine hewan dan sistem pemantauan kesehatan ternak berbasis data. Transformasi ini menuntut peningkatan kualitas pendidikan kedokteran hewan, penguasaan soft skill profesional, serta penerapan etika yang relevan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kebutuhan tenaga dokter hewan juga mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan hewan. Dokter hewan berperan penting dalam edukasi publik mengenai cara pemeliharaan hewan yang tepat, pemahaman kebutuhan fisiologis dan perilaku hewan, serta pentingnya kesejahteraan hewan sebagai bagian dari etika sosial. Edukasi ini dapat mencegah praktik pemeliharaan yang keliru dan menjadi langkah preventif untuk mencegah penyebaran penyakit.
Melihat kompleksitas peran dan tantangan profesi dokter hewan, diperlukan langkah strategis untuk memperkuat keberadaan tenaga veteriner di Indonesia. Hal ini mencakup penambahan kapasitas pendidikan kedokteran hewan, penyebaran tenaga yang lebih merata hingga wilayah pelosok, serta peningkatan kompetensi agar mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat.
Upaya ini bukan hanya mendukung pembangunan sektor peternakan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesehatan hewan dan manusia, serta berkontribusi pada pembangunan nasional yang berkelanjutan melalui penerapan konsep One Health secara menyeluruh.
Kesimpulannya;
Dokter hewan bukan sekadar tenaga medis hewan, melainkan komponen vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem, kesehatan masyarakat, dan masa depan ketahanan pangan Indonesia.
Penguatan profesi ini adalah investasi strategis bagi bangsa dan perlu menjadi perhatian bersama pemerintah, akademisi, dunia industri, dan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA;
ADHPHKI. (2014). Kode Etik Profesi Dokter Hewan Indonesia. Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Indonesia.
Jubilia, A. A., & Suardana, I. W. (2024). Application of Veterinary Ethics in Indonesia. Veterinary Science and Medicine Journal, 6(3), 256–264.
Prasetyowati, E., Aldifa, S. Z., & Dameanti, F. N. A. E. P. (2021). Pengenalan Konsep One Health dan Profesi Dokter Hewan. Universitas Brawijaya.
UGM. (2017). Daerah Masih Kekurangan Tenaga Dokter Hewan. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/12076-daerah-masih-kekurangan-tenaga-dokter-hewan/
UGM. (2018). Dokter Hewan Berperan Penting Menjaga Keamanan Bahan Pangan Hewani. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/16119-dokter-hewan-berperan-penting-menjaga-keamanan-bahan-pangan-hewani/
UGM. (2019). Mengenal Lebih Jauh Profesi Dokter Hewan. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/265-mengenal-lebih-jauh-profesi-dokter-hewan/
Poultry Indonesia. (2023). Kebutuhan dan Potensi Dokter Hewan di Indonesia Saat Ini. Poultry Indonesia. https://www.poultryindonesia.com/id/kebutuhan-dan-potensi-dokter-hewan-di-indonesia-saat-ini/
National Center for Biotechnology Information. (2024). Future Directions in Veterinary Medicine. National Institutes of Health. https://pmc-ncbi-nlm-nih-gov.translate.goog/articles/PMC11753236/
St. Matthew’s University School of Veterinary Medicine. (2024). The Future of Veterinary Medicine. https://veterinary-stmatthews-edu.translate.goog/blog/future-of-veterinary-medicine/
Penulis : Naura Fairuz Sinta Zahirah
Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Airlangga
















































