Prajurit Masariku Perangi Stunting di Papua: Gizi untuk Masa Depan Anak

2 days ago 3

NDUGA - Di tengah lanskap terjal Krepkuri, Distrik Nduga, Papua Tengah, sebuah ‘medan perang’ baru tengah dikumandangkan oleh prajurit Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 733/Masariku. Kali ini, senjata mereka bukanlah senapan, melainkan segenap upaya untuk memberantas stunting melalui program inovatif bertajuk “Masariku Peduli Gizi”. Inisiatif ini secara khusus menyasar anak-anak sekolah dasar di SD Rimba YPPK Yan Smith Mumugu 2, menjangkau 216 siswa dari jenjang kelas 1 hingga 6.

Pada Kamis (27/11/2025), di halaman sekolah yang dikelilingi keindahan alam perbukitan, para prajurit dengan sigap membagikan hidangan bergizi seimbang. Menu yang disajikan meliputi sumber karbohidrat dari nasi dan umbi, protein hewani dari telur dan ikan kaleng, protein nabati dari kacang-kacangan, serta aneka sayuran segar. Semua hidangan ini diracik oleh tim teritorial pos dengan penuh perhatian, disajikan sebagai makan siang komunal yang hangat untuk seluruh siswa.

Menanggapi aksi prajurit, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga, dr. Simon Wanimbo, MPH, menyoroti urgensi program ini. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap data skrining gizi tahun 2024 yang menunjukkan prevalensi stunting di Nduga masih mencapai lebih dari 40 persen. “Intervensi berbasis sekolah seperti ini sangat relevan, ” ujar dr. Simon Wanimbo, MPH. “Anak-anak mendapat asupan langsung dan teratur. Ini adalah model kolaborasi yang sangat kita butuhkan—cepat, tepat, dan menyentuh sasaran.”

Dansatgas Yonif 733/Masariku, Letkol Inf Julius Jongen Matakena, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari pendekatan teritorial yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar. “Kami melihat persoalan gizi sebagai ancaman nyata bagi masa depan anak-anak Papua, ” tegas Letkol Inf Julius Jongen Matakena. “Ketika tubuh mereka kuat dan kebutuhan makan terpenuhi, ruang bagi ketakutan, putus sekolah, dan sakit berkepanjangan akan menyempit. Ini juga cara kami hadir sebagai negara yang melindungi, bukan membuat jarak.”

Perubahan positif tak luput dari pengamatan Kepala Sekolah SD Rimba, Sinta Murib (39). Ia bercerita bahwa sejak program ini berjalan sebulan terakhir, murid-muridnya menunjukkan peningkatan signifikan. “Anak-anak yang sebelumnya sering izin karena lemas atau sakit sekarang lebih aktif, ” tutur Sinta Murib (39). “Tingkat kehadiran kami meningkat hampir 30 persen dalam sebulan terakhir. Mereka lebih fokus belajar, terutama di sesi pagi usai sarapan tambahan dari pos.”

Kesaksian datang pula dari salah satu siswa kelas 5, Natan Wenda (11), yang dengan polos menggambarkan dampaknya. “Kalau sudah makan kenyang, kami bisa hitung cepat di kelas. Dulu perut lapar bikin mata mengantuk, ” katanya sambil tertawa, sebuah gambaran sederhana namun mendalam tentang realitas yang seringkali terlewatkan.

Panglima Koops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, mengapresiasi program ini sebagai sebuah “kemenangan strategis jangka panjang”. “Perang di Papua bukan hanya tentang keamanan, tapi tentang masa depan manusianya, ” ujar Mayjen TNI Lucky Avianto. “Piring gizi yang sampai ke mereka adalah operasi paling senyap, tapi paling menentukan. Senyum anak-anak di sini adalah indikator keberhasilan yang tidak akan ditangkap radar, tapi terekam di ingatan.”

Selain pemberian makan siang bergizi, Satgas juga menyisipkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk pentingnya cuci tangan, sanitasi honai, dan pengelolaan sampah organik sekolah. Materi edukasi ini disampaikan menggunakan bahasa lokal yang sederhana agar mudah dipahami dan diterapkan oleh anak-anak.

Kegiatan yang menyentuh hati ini direncanakan akan berlanjut secara rutin, dilaksanakan setiap dua pekan, dengan dukungan penuh dari guru serta tenaga kesehatan kampung setempat.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |