Pos Imsun Berubah Jadi Klinik Harapan: Marinir Hadirkan Kesehatan Gratis

4 days ago 1

PAPUA BARAT DAYA - Pagi di Kampung Imsun, Papua Barat Daya, tak hanya dihangatkan mentari, tapi juga oleh semangat kepedulian. Sejak fajar menyingsing, halaman Pos Imsun sudah ramai dipadati warga dari Imsun dan Kisor. Wajah-wajah penuh harap terpancar dari para orang tua yang menggendong buah hati, lansia yang bertopang tongkat, hingga ibu-ibu yang menggenggam erat catatan keluhan kesehatan. Mereka semua berkumpul untuk satu tujuan mulia: menerima layanan pengobatan gratis yang digagas oleh Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas) RI-PNG Mobile 2025 Batalyon Infanteri (Yonif) 10 Marinir/SBY.

Di tengah medan terjal dan minimnya fasilitas kesehatan, prajurit Marinir ini mengubah pos penjagaan yang biasanya identik dengan keamanan menjadi episentrum penyelamat nyawa. Tim medis dari Satgas dengan sigap memeriksa setiap warga, memberikan resep obat yang tepat, serta berbagi edukasi tentang pentingnya pola hidup bersih untuk mencegah penyakit. Kehangatan dan kesabaran mereka terasa begitu nyata, seolah tak ada jarak antara prajurit dan masyarakat.

“Mereka bukan hanya mengobati, mereka menjelaskan pelan-pelan, sabar… seperti keluarga sendiri, ” tutur seorang mama paruh baya yang tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.

Komandan Pos Kesehatan Imsun, Lettu Ckm (Mar) dr. Fhandeka Israr, menjelaskan bahwa layanan ini adalah wujud nyata kepedulian terhadap kebutuhan mendesak warga.

“Kami melihat banyak keluhan infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, dan gangguan pencernaan, terutama pada anak dan lansia. Maka, kami membuka layanan gratis di pos, agar warga tidak perlu berjalan jauh dalam kondisi sakit, ” ujarnya dengan tulus.

Bagi warga seperti Jupiter (34), inisiatif ini bagaikan secercah cahaya di kegelapan.

“Kami di sini kalau sakit harus turun kampung atau jalan jauh. Hari ini kami bisa periksa langsung di Pos Imsun. Ini seperti gelap jadi terang… pos jadi tempat hidup juga, bukan hanya jaga, ” ungkapnya penuh haru.

Senada dengan itu, Kepala Kampung Imsun, Marthen Wea (37), tak henti-hentinya mengucap terima kasih.

“Ini adalah bukti TNI hadir bukan hanya di garis batas negara, tapi juga di garis batas harapan masyarakat. Kami rindu layanan seperti ini terus ada. Supaya anak-anak kami bisa tumbuh sehat, ” katanya.

Komandan Satgas Yonif 10 Marinir/SBY, Letkol Marinir Aris Moko, menegaskan bahwa misi mereka melampaui sekadar menjaga kedaulatan negara.

“Kehadiran kami di perbatasan adalah untuk melindungi dan membantu. Ketika rakyat membutuhkan kesehatan, kami hadir sebagai tenaga medis. Ketika rakyat membutuhkan rasa aman, kami berdiri di depan. Itu tugas kami, ” tegasnya, menunjukkan komitmen tak tergoyahkan.

Suasana kegiatan pengobatan gratis ini begitu harmonis. Personel Satgas dengan ramah mengatur antrean, bahkan tak jarang melontarkan canda riang kepada anak-anak yang akan diperiksa. Pemandangan ini menjadi bukti nyata bahwa di balik seragam loreng, tersembunyi jiwa kemanusiaan yang tak pernah padam. Program mulia ini direncanakan akan digelar secara rutin sepanjang masa penugasan, menjadi jembatan kemanusiaan yang kokoh di wilayah perbatasan.

Di Pos Imsun hari itu, kalimat terima kasih tak henti terdengar, mengalir tulus untuk para prajurit penjaga kedaulatan, yang juga menjadi penyembuh dan penyejuk hati.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |