Peran Aiptu Ngurah Rai Bina Petani di Bali agar Hasil Panen Meningkat

4 hours ago 3

Jakarta -

Aiptu I Gusti Ngurah Rai Antanegara, Ps Kasium Polsek Kota Jembrana terlibat aktif di bidang pertanian di Jembrana, Bali. Aiptu Ngurah Rai membina petani untuk meningkatkan hasil panen hingga meningkatkan hasil penjualan.

Atas kepeduliannya di bidang pertanian ini, Aiptu Ngurah Rai diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026. Sebelumnya, Aiptu Ngurah Rai juga menjadi kandidat Hoegeng Corner 2025.

Warga Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, I Ketut Tinggalada, mengatakan Aiptu Ngurah Rai adalah anggota polisi yang aktif bertani. Aiptu Ngurah Rai juga membina kelompok tani.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dia termasuk anggota polisi yang orang tuanya petani, jadi dia selaku polisi menyenggangkan waktunya di saat tidak tugas dia ikut juga selaku seorang petani," kata I Ketut Tinggalada kepada detikcom, Selasa (10/3/2026).

I Ketut Tinggalada adalah Ketua Subak Pemangket Awen Barat, sementara Aiptu Ngurah Rai sebagai sekretaris. Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang mengatur irigasi dan soal pertanian di Bali.

Ketut mengungkap peran penting yang dilakukan oleh Aiptu Ngurah Rai hingga petani bisa melakukan penanaman dengan lancar hingga mendapatkan hasil panen yang bagus. Aiptu Ngurah Rai juga disebut berperan penting dalam pengaturan irigasi yang dulunya sempat dimonopoli.

"Kalau dulu memang seperti monopoli pejabat yang lebih dulu, beliau mendampingi saya juga, ya alhamdulillah tidak ada kendala, semua teratasi. Semua bisa difasilitasi berkat beliau juga yang tahu aturan hukum," ucap dia.

Aiptu I Gusti Ngurah Rai membina petani di JembranaAiptu I Gusti Ngurah Rai memimpin rapat dengan petani di Jembrana (Foto: dok. Istimewa)

Di subak, Aiptu Ngurah Rai disebut menanamkan kedisiplinan, terutama masalah pembagian pupuk. Ketut menyebut dengan adanya Aiptu Ngurah Rai di subak, para petani dapat menerima pupuk subsidi dengan adil dan rata.

"Dia tetap menjaga kedisiplinan, misalnya siapa tahu ada beberapa anggota yang tidak memenuhi aturan otomatis dia kena sanksi dan beliau menegaskan sanksi tersebut. Makanya semenjak beliau mendampingi saya, astungkara, tidak ada kendala," jelasnya.

"Dari penebusan pupuk yang bermasalah dulu pernah ada sekarang tidak ada, sekarang aman-aman saja. Dari pelaporan pendataan juga termasuk dokumentasi lengkap beliau punya. Secara administrasi lebih rapi, surat keluar, surat masuk, tamu datang ada laporannya, gimana notulennya setiap kami rapat," imbuhnya.

Aiptu Ngurah Rai bina petani di Jembaran, BaliAiptu Ngurah Rai bina petani di Jembrana, (Bali Foto: dok. Istimewa)

Sementara itu, Aiptu Ngurah Rai juga disebut mengajak warga untuk mengubah cara penjualan hasil panen. Dia mengimbau petani untuk tidak menjual ke tengkulak dengan sistem ijon.

"Kalau dulu dominan selaku petani yang kurang tahu, banyak petani yang masih jual langsung ke tengkulak tapi pada akhirnya tidak sesuai harapan. Tengkulak otomatis ada potongannya dia," ucap dia.

Guna meningkatkan hasil penjualan itu, Ketut dan Aiptu Ngurah Rai mengajak petani untuk menjual hasil panen langsung ke pabrik. Sehingga, harga jual gabah menggunakan harga yang telah ditetapkan pemerintah.

"Semenjak Ajik dan saya menegaskan itu, kenapa kok tidak kita proses sendiri, sedangkan kita selaku pelaku yang tahu persis dari awal sampai akhir, kenapa kok ke tengkulak, akhirnya lama kelamaan petani menikmati hasil yang lebih bagus. Langsung ke pabrik sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah," jelasnya.

Selain itu, Ketut mengatakan Aiptu Ngurah Rai juga mengajak warga untuk bekerja di lahan pertaniannya.

"Kalau beliau di bidang horti termasuk dia mampu menyerap tenaga kerja yang nganggur, karena beliau ikut nenanam horti dia dengan tanah yang lebih lebar, akhirnya dia ada penyerapan tenaga kerja. Kalau dak salah ada 6 ibu-ibu sudah lansia, setiap kali ada penanaman beliau selalu menyerap tenaga kerja, bahkan lebih dari 6 kalau tenaga yang dibutuhkan banyak," jelasnya.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Anggi, mengaku terbantu dengan pembinaan kepada petani yang diberikan oleh Aiptu Ngurah Rai. Anggi mengatakan Ngurah Rai sangat aktif membantu petani.

"Menurut saya sebagai seorang PPL, Pak Ngurah Rai ini sangat aktif sekali dalam pembinaan ke petani, mungkin karena beliau selain menjabat sebagai Polisi, kesehariannya beliau juga berkecimpung di dunia pertanian dengan mengelola sebagian lahan miliknya untuk budidaya padi dan tanaman hortikultura seperti cabai dan sayuran lainnya," kata Anggi kepada detikcom.

Anggi menyebut Aiptu Ngurah Rai sangat aktif memberikan sosialisasi. Menurutnya, Ngurah Rai juga mengawasi agar distribusi pupuk bersubsidi tepat sasaran.

"Bapak Ngurah Rai ini selalu dalam setiap kesempatan bersama petani, membantu saya juga sebagai PPL melakukan sosialisasi tentang aturan pupuk bersubsidi sekaligus mengawasi distribusi pupuk bersubsidi agar tidak ada penyelewengan pupuk bersubsidi di tingkat petani," ucap dia.

Dari sisi penjualan hasil panen, Aiptu Ngurah Rai juga memberikan pendampingan kepada petani. Anggi menyebut Ngurah Rai mengajak petani agar tidak bergantung pada tengkulak.

"Beliau juga mendorong petani sekitar untuk tidak bergantung kepada tengkulak sehingga petani bisa mendapatkan keuntungan lebih dari hasil panennya," jelas dia.

Aiptu Ngurah Rai bina petani di Jembaran, BaliAiptu Ngurah Rai bina petani di Jembrana, Bali (Foto: dok. Istimewa)

Anggi mengatakan Aiptu Ngurah Rai juga berkontribusi dalam program-program pemerintah daerah. Salah satu program tersebut adalah mengajak petani untuk berpartisipasi dalam program pemasaran hasil panen dalam pasar murah.

"Sehingga petani lebih mudah bertemu langsung dengan konsumen tanpa ada perantara tengkulak," ucap dia.

Dalam meningkatkan hasil panen, Aiptu Ngurah Rai disebut juga sering memberikan pembinaan kepada petani. Anggi menyebut langkah yang dilakukan Aiptu Ngurah Rai ini membantu PPL.

"Beliau juga sering sharing dengan petani tentang teknik budidaya tanaman yang dapat meningkatkan hasil panen. Pada intinya beliau tidak pelit ilmu kepada petani lain, jadi jujur saja bu, saya sebagai PPL juga ikut terbantu dengan adanya kontribusi dari beliau, karena tidak mudah untuk bisa diterima dan didengar oleh petani," katanya.

Awal Mula Aiptu Ngurah Rai Bina Petani

Aiptu Ngurah Rai memulai aksinya di bidang pertanian itu sejak 2009. Pada saat itu ada sejumlah masalah yang dihadapi para petani, dia pun berupaya mengatasinya.

"Tujuan saya ke pertanian awalnya waktu itu sulitnya mencari solar untuk petani. Waktu itu batasi, karena di sini di subak saya mengandalkan tadah hujan, karena di kecamatan saya tidak memiliki sungai, jadi semua menggunakan generator yang diberikan oleh pemerintah sejak 1972," kata Ngurah Rai saat dalam program Hoegeng Corner, Selasa (21/10/2025).

Aiptu Ngurah Rai juga ingin mengawal masalah pupuk bersubsidi. Menurutnya, pada saat itu pembagian pupuk tidak rata.

"Saya ingin mengawal terkait pupuk bersubsidi pemerintah agar tidak terjadi penyelewengan. Dan menuntun petani agar tidak lagi hasil pertanian dengan sistem ijon, saya tuntun petaninya biar bisa menjual gabah yang sudah dipanen kemudian dijual ke pabrik," kata Ngurah Rai.

Aiptu Ngurah Rai bina petani di Jembaran, BaliAiptu Ngurah Rai bina petani di Jembrana, Bali (Foto: dok. Istimewa)

Aiptu Ngurah Rai kemudian menjadi pengurus subak. Subak Pemangket Awen Barat ini membawahi 8 kelompok tani, yang terdiri atas petani padi atau petani umum dan petani hortikultura, yakni tanaman jagung, cabai, melon hingga terong.

Pada awal Aiptu Ngurah Rai bergabung tahun 2009 dulu, dia menyebut terdapat banyak masalah yang dihadapi kelompok tani ini, sehingga petani kesulitan mendapatkan air hingga pupuk.

"Karena puluhan tahun kepengurusan di subak umum itu ada banyak penyelewengan keuangan, saya diangkat menjadi sekretaris. Sampai sekarang saya benahi semuanya, akhirnya subak umum bisa berjalan. Ada juga beberapa penyelewengan dari hasil pertanian, karena kelompok itu juga mempunyai dana-dana," kata dia.

Aiptu Ngurah Rai membina kelompok tani di luar jam dinasnya di Polsek Kota Jembrana. Dia ingin petani menggunakan cara yang lebih modern sehingga hasil panen semakin baik.

"Karena SDM kami di sini memang rata-rata semua lulusan SD, itu mereka pemahamannya jadi hanya berpikir petani zaman dulu, selalu mengandalkan cuaca, tapi pada kenyataannya sekarang tropis Indonesia bisa berubah, dulu mulai September sudah mulai hujan, tapi kenyataannya Desember baru turun hujan, sekarang sudah mulai berubah," tutur dia.

Upaya Tingkatkan Perekonomian Petani

Aiptu Ngurah Rai membina 8 kelompok tani dengan total anggota sekitar 200 orang. Total lahan yang dimiliki petani sekitar 150 hektare.

Dulunya, petani menjual hasil pertaniannya dengan sistem ijon, di mana petani menjual ke tengkulak sebelum masa panen tiba. Aiptu Ngurah sistem ijon ini membuat petani hanya mendapatkan sedikit keuntungan.

"Contoh, dulu umpamanya per 1 are (100 m2) pada saat panen raya itu harga 250-300 per are. Kemudian saya kasih penjelasan, 'kenapa kita susah-susah merawat padi sedangkan keuntungan dinimakti orang', akhirnya kita rawat sebaiknya dan hasilnya kita nikmati sendiri," tutur dia.

"Akhirnya sejak itu sudah banyak petani hampir 70 persen yang sudah menjual gabahnya, tidak lagi menjual padi di sawah, di sana keuntungannya. Sehingga kalau dinilai rata-rata, biasanya dijual 300 ribu per are, bisa nilainya sampai 400 kalau dijual gabahnya," imbuhnya.

Hasil panen petani, kata Aiptu Ngurah, akan dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan harga jual di pasaran. Namun, kata dia, kebijakan pemerintah terkait harga gabah kering cukup membantu petani.

"Selain pemerintah menerapkan harga gabah kering ke petani sebesar 6.500 dari semenjak itu saya sampaikan ke petani agar tidak sistem ijon, rata-rata petani mendapatkan keuntungan yang luar biasa," jelasnya.

Aiptu Ngurah Rai bina petani di Jembaran, BaliAiptu Ngurah Rai bina petani di Jembrana, Bali (Foto: dok. Istimewa)

Biasanya, petani akan panen padi 2 kali dalam setahun. Dia menyebut 1 hektare lahan padi bisa menghasilkan Rp 20 juta setiap kali panen.

"Rata-rata anggaplah, padi panen 100 hari, kalau di 1 hektare itu bisa mendapatkan kalau bagus bersihnya sampai di atas 20 juta per hektare, sudah di luar biayanya. Dampaknya luar biasa, setelah mengikuti program yang saya lakukan luar biasa, artinya perekonomian petani di sini sudah semakin maju dibandingkan dulu," kata dia.

Dalam satu tahun itu, para petani juga menyelingi untuk menanam tanaman hortikultura. Biasanya petani ada yang memilih bertanam jagung, tomat, semangka hingga cabai.

"Kalau untuk horti seperti cabai itu (panennya) lama, seperti kemarin sempat 70 juta sampai akhir, bisa sampai 6 bulan, kalau terong rata-rata 2 bulan, ya rata-rata sampai 20 juta," tutur Ngurah Rai.

Ngurah Rai menguasai ilmu pertanian dari orang tuanya. Sejak kecil Ngurah Rai sudah ikut ke sawah karena orang tuanya seorang petani.

"Saya selain menjadi anggota Polri, setelah anggota kepolisian, sorenya saya bertani, terjun langsung. Selain untuk membantu petani yang lain saya juga memberikan edukasi bagaimana cara petani biar bisa menjadi petani modern, tidak harus seperti zaman dulu," pungkasnya.

Aiptu I Gusti Ngurah Rai membina petani di JembranaAiptu I Gusti Ngurah Rai memberikan edukasi kepada anak muda mengenai pertanian (Foto: dok. Istimewa)

Lihat juga Video 'Intip Kemeriahan Pengarakan Ogoh-Ogoh di Pantai Berawa Bali':

(lir/knv)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |