Peneliti UNEJ: Gipsum Puger dan Pati Singkong Bantu Regenerasi Tulang Rahang

2 hours ago 2

loading...

Dr. drg. Amiyatun Naini, M.Kes., dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember saat menjelaskan pengembangan HAGP-CS berbahan gipsum Puger dan pati singkong. Dok Pribadi

JEMBER - Kehilangan gigi kerap dianggap sebagai persoalan sederhana. Padahal, setelah gigi dicabut, tulang rahang di sekitarnya perlahan dapat menyusut. Kondisi yang dikenal sebagai resorpsi tulang ini membuat sebagian pasien tidak lagi memiliki tulang yang cukup kuat untuk menopang implan gigi .

Implan berbentuk seperti pasak yang ditanamkan ke dalam tulang rahang. Jika tulang terlalu tipis atau volumenya berkurang, implan akan sulit dipasang dan berisiko goyang hingga lepas. Dalam kondisi tersebut, dokter dapat melakukan pencangkokan tulang atau bone graft untuk mempertahankan maupun menambah volume tulang sebelum pemasangan implan.

Bahan bone graft saat ini berasal dari berbagai sumber, mulai dari tulang sapi, cangkang kerang, kulit telur, kitosan hingga bahan sintetis. Namun, Dr. drg. Amiyatun Naini, M.Kes., dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember (UNEJ), mencoba mencari alternatif dari bahan lokal.

Baca Juga : Selamat Tinggal Ompong, Ilmuwan Temukan Obat Penumbuh Gigi

Perhatiannya tertuju pada gipsum Puger, Jember, yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk industri bangunan dan semen.

“Puger itu memiliki potensi lokal yang sangat besar, tapi selama ini hanya untuk industri bangunan atau semen. Saya ingin mengeksplorasi potensi daerah sendiri agar bisa dikembangkan untuk bidang kesehatan,” ujar Dr. Amiyatun.

Pengembangan gipsum Puger sebagai bahan bone graft telah dimulai sejak 2010. Pada tahap awal, penelitian hanya menggunakan gipsum Puger sebagai bahan utama. Material ini dipilih karena kaya kalsium dan dapat diolah menjadi hidroksiapatit melalui proses konversi kimia dengan penambahan sumber fosfat.

Hidroksiapatit merupakan salah satu mineral utama penyusun tulang. Namun, hidroksiapatit dari gipsum Puger masih memiliki keterbatasan pada sifat mekanik dan stabilitasnya. Karena itu, peneliti menambahkan pati singkong sebagai biopolimer.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |