Jakarta -
Orang tua MWP (6), bocah korban perundungan di Taman Kramat, Jakarta Pusat, menceritakan momen saat pertama kali mengetahui anaknya ditemukan tak sadarkan diri usai bermain di taman dekat rumah. Saat itu, mereka belum mengetahui MWP menjadi korban bullying dan sempat mengira sang anak mengalami kecelakaan.
Ibu korban, V (26), mengatakan peristiwa bermula pada Minggu (7/6) ketika MWP meminta izin untuk bermain di luar rumah. Karena merasa lingkungan sekitar aman, ia mengizinkan anaknya pergi bermain.
"Hari Minggu saya sedang berada di rumah. Dia meminta uang kepada saya, terus bilang mau main ke lapangan atau taman. Saya izinkan karena biasanya juga pulang ke rumah," kata V saat ditemui di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (13/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sekitar satu jam kemudian, MWP tak kunjung pulang. Tak lama berselang, seorang anak tetangga datang memberi kabar bahwa MWP tergeletak di lapangan.
"Ada anak kecil yang memberi tahu ke rumah saya. Katanya, 'Mama Wildan, Wildan pingsan di lapangan'," ujarnya.
V mengaku terkejut karena tidak mengetahui apa yang terjadi. Saat ditemukan, anaknya sudah dalam kondisi tak sadarkan diri dengan pakaian basah dan tubuh membiru.
"Saya tidak tahu anak ini diapakan. Tiba-tiba sudah pingsan duluan begitu, tergeletak di lapangan dalam keadaan baju basah. Badannya semua ada warna biru begitu," tuturnya.
Ayah korban kemudian membawa MWP untuk mendapatkan pertolongan medis. Setelah sempat berpindah rumah sakit, MWP akhirnya dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Menurut V, kondisi anaknya saat itu sangat kritis hingga sempat tidak sadarkan diri dan dirawat di ruang ICU.
"Di RSCM dibawa ke ruang ICU. Dia sempat tidak sadar dari jam delapan malam sampai jam sepuluh malam. Sempat koma juga dia," katanya.
Keluarga pun baru mengetahui MWP diduga menjadi korban perundungan setelah melihat rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian pada hari berikutnya.
"Kalau saya tahunya saat melihat rekaman CCTV. Setelah hari Selasa kami lihat CCTV kejadiannya," ujar V.
Melihat rekaman tersebut, V mengaku tak kuasa menahan emosi. Ia bahkan sempat ingin mendatangi pelaku.
"Saya menangis, sempat kesal juga. Sempat ingin ke rumah pelaku, cuma ditahan oleh keluarga," tuturnya.
Hal serupa disampaikan ayah korban, B (29), yang mengaku marah dan sedih atas kejadian tersebut. Namun, pihak keluarga menyerahkan proses hukum kepada kepolisian.
"Ya pasti kesal, marah. Kita sebagai orang tua korban pasti marah. Tapi ya sudah, kami serahkan ke kepolisian dan minta keadilan," kata B.
B mengatakan MWP merupakan anak yang aktif bermain. Meski memiliki disabilitas sejak lahir, putranya dikenal ceria dan mudah bergaul dengan teman-temannya.
"Kalau awalnya memang aktif, suka bermain seperti anak-anak biasa. Memang dari lahir ada kekurangan, disabilitas, tapi aktif," ujarnya.
Seperti diketahui, bocah berusia 6 tahun di-bully dua remaja saat bermain di Taman Kramat, pada Minggu (7/6). Korban diangkat oleh kedua pelaku lalu dibawa ke sebuah tiang listrik hingga akhirnya korban tersetrum.
Dua pelaku sempat pergi, lalu datang kembali menyeret korban menjauh dari tiang listrik. Polisi saat ini telah mengamankan dua pelaku yang masing-masing berusia 17 dan 16 tahun.
Simak juga Video 'Pramono Sorot Kasus Bullying Anak di Senen, Akan Ditindak Tegas':
(bel/amw)

















































