Mentrans Terjunkan 1.200 Patriot ke Papua, Dorong Ekonomi Warga

1 week ago 5

Jakarta -

Pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi resmi menerjunkan 1.200 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 ke sejumlah kawasan transmigrasi di Papua. Penugasan ini bertujuan membantu masyarakat meningkatkan produktivitas, mengembangkan usaha lokal, membuka akses pasar, hingga menciptakan lapangan kerja baru.

Para Patriot ini terdiri atas akademisi, peneliti, dan tenaga ahli dari berbagai perguruan tinggi. Mereka tidak sekadar ditugaskan untuk melakukan riset dan pemetaan wilayah semata. Tim harus mampu menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat, menerapkan teknologi tepat guna, mengolah potensi lokal, serta mempertemukan pelaku usaha dengan offtaker dan investor.

"Yang paling penting adalah seberapa besar dampak yang dihasilkan. Ukurannya bukan berapa banyak peserta yang kita kirim, tetapi perubahan nyata yang kita tinggalkan bagi masyarakat," ujar Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara pada keterangan tertulis, Kamis (13/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini disampaikannya dalam Konferensi Pers Pemerintah di Auditorium Bakom RI, Jakarta, Rabu (12/8).

Dari total 1.476 peserta TEP 2026, sekitar 1.200 peserta yang tergabung dalam 200 tim difokuskan untuk bertugas di Papua. Penempatan berskala besar ini merupakan bentuk keberpihakan pemerintah dalam mempercepat pemerataan pembangunan nasional. Peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan Indonesia Timur kini menjadi prioritas utama.

Masyarakat harus dapat merasakan langsung manfaat kehadiran para Patriot di daerahnya.

"Keberhasilan diukur dari masalah yang diselesaikan, teknologi yang digunakan masyarakat, produktivitas dan pendapatan yang meningkat, UMKM dan usaha lokal yang naik kelas, produk yang memiliki nilai tambah, pasar dan offtaker yang terbuka, serta investasi dan lapangan kerja yang tercipta," tegasnya.

Setiap tim wajib menyusun solusi berdasarkan potensi dan kebutuhan spesifik masing-masing kawasan. Kondisi lahan, cuaca, komoditas unggulan, hingga karakter sosial budaya masyarakat akan menjadi dasar perancangan program.

"Tidak ada pembangunan di tanah air ini yang one size fits all, sistemnya harus tailor-made. Setiap wilayah memiliki potensi dan persoalan yang berbeda, karena itu pendekatannya tidak boleh dipukul rata," kata Iftitah.

Pendekatan spesifik ini diharapkan membuat intervensi pemerintah semakin tepat sasaran sesuai kondisi lapangan. Pada wilayah pertanian, para Patriot ditugaskan membantu meningkatkan produksi, memperbaiki pengolahan pascapanen, dan membuka akses pemasaran. Sementara pada kawasan dengan produk unggulan lokal, pendampingan diarahkan untuk meningkatkan kualitas, kemasan, hingga nilai jual.

Para peserta ditempatkan di Lereh (Jayapura), Senggi (Keerom), Salor dan Muting (Merauke), serta Prafi dan Momiwaren (Manokwari). Kawasan Werianggi-Werabur (Teluk Wondama), Bomberay-Tomage dan Weri-Saharey (Fakfak), hingga Klamono-Segun (Sorong) juga menjadi sasaran. Penugasan ini melibatkan 10 perguruan tinggi mitra terkemuka di Indonesia.

Pemerintah ingin memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhenti di ruang kuliah atau laboratorium saja. Ilmu tersebut harus hadir langsung di lapangan untuk menjawab beragam kebutuhan riil masyarakat.

"Kita ingin menghadirkan banjir ilmu pengetahuan dan teknologi di kawasan transmigrasi. Ilmu harus sampai kepada masyarakat dan menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan mereka," ujar Iftitah.

Program TEP 2026 merupakan kelanjutan strategis dari pelaksanaan tahun sebelumnya. Pada 2025 lalu, sebanyak 2.000 peneliti diterjunkan ke 154 kawasan transmigrasi guna melakukan riset dan pemetaan potensi wilayah. Hasil riset tersebut kini menjadi pijakan utama dalam merancang intervensi konkret tahun ini.

Pemerintah kini menajamkan fokus pembangunan dari 154 kawasan binaan menjadi 53 kawasan prioritas agar dampaknya lebih terukur.

"Fokus kita bukan lagi sekadar memperluas jangkauan, tetapi memperbesar manfaat. Terutama di Indonesia Timur, pembangunan harus benar-benar menghadirkan kehidupan yang lebih produktif, sejahtera, dan bermartabat bagi masyarakat," pungkas Iftitah.

Tonton juga video "Mentrans Kirim 2.000 Peneliti Kembangkan Kawasan Transmigrasi"

(ega/ega)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |