Jakarta -
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan dampak konflik Amerika Serikat, Israel, Iran, hingga negara-negara Teluk terhadap RI. Ia mengatakan sampai saat ini ada 770 penerbangan yang dibatalkan akibat konflik di sana.
Hal itu disampaikan Widiyanti dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026). Ia mengatakan ada 6 titik penerbangan ke Indonesia yang terdampak perang di kawasan Timur Tengah (Timteng) tersebut.
"Dalam periode 29 hari dari 28 Februari hingga 28 Maret 2026, terdapat enam titik asal penerbangan yang terdampak yaitu Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, Madinah, dan Muscat," kata Widiyanti dalam rapat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut ada 770 penerbangan yang dibatalkan selama periode 28 Februari hingga 28 Maret 2026. RI juga berpotensi kehilangan 60.752 kunjungan wisatawan mancanegara.
"Secara total, terdapat 770 penerbangan dibatalkan dengan potensi kehilangan 60.752 kunjungan wisatawan mancanegara dan Rp 2,04 triliun devisa," ujarnya.
Menpar mengatakan, jika kondisi tersebut terus berlanjut sampai akhir tahun, diprediksi RI akan kehilangan 1,68 juta wisatawan. Devisa untuk negara juga akan hilang senilai Rp 56,5 triliun.
"Apabila kondisi ini berlanjut hingga akhir tahun, potensi dampak diperkirakan mencapai 1,44 hingga 1,68 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan Rp 48,3 hingga Rp 56,5 triliun devisa," ungkapnya.
Kendati demikian, pihaknya berkomitmen untuk mencapai target 17,6 juta kunjungan wisatawan di 2026. Kemenpar menyusun sejumlah langkah strategis menghadapi kondisi geopolitik.
"Di tengah tantangan ini, Kementerian Pariwisata tetap berkomitmen untuk mencapai target 16 hingga 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun 2026," ujarnya.
Strategi yang akan dilakukan, di antaranya menyasar kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, hingga memperkuat kampanye digital internasional. Pihaknya bakal mengoptimalkan kerja sama dengan maskapai yang memiliki rute langsung ke Eropa dan Amerika.
"Penyelenggaraan cross border events di wilayah perbatasan untuk menarik wisatawan dari negara tetangga tanpa menimbulkan strain di kapasitas penerbangan. Dan juga, penguatan promosi wisata nusantara untuk menjaga pergerakan wisatawan nusantara dan tingkat hunian hotel," ujar Widiyanti.
"Di tengah tekanan global, kita perlu bergerak lebih adaptif. Diversifikasi pasar, penguatan promosi, dan optimalisasi wisata nusantara menjadi kunci agar sektor pariwisata tetap menjadi penggerak ekonomi nasional," imbuhnya.
Tonton juga video "Imbas Konflik Timteng: Devisa RI Rp56,5 T Terancam Melayang!"
(dwr/jbr)
















































