Jakarta -
Di momen Lebaran ini, silaturahmi merupakan tradisi mengunjungi keluarga, kerabat hingga tetangga untuk bermaafan dan mempererat tali persaudaraan. Namun, mana penulisan yang benar antara silaturahmi dan silaturahim?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang benar adalah silaturahmi. Arti silaturahmi dalam KBBI adalah tali persahabatan (persaudaraan).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjelasan Antara Silaturahmi atau Silaturahim
Mengutip dari situs Muhammadiyah, kata "silaturahmi" atau "silaturahim" berasal dari dari dua kata; shilat dan al-rahim atau al-rahmi. Apa artinya?
Istilah "shilat" berarti sambungan atau menyambung atau menjalin atau menghubungkan, sementara al-rahim atau al-rahmi satu akar kata yang sama yaitu rahima - yarhamu. Dari kata rahima - yarhamu bisa menghasilkan dua bentuk masdar (kata infinitif) yang berbeda dan mempunyai arti yang berbeda pula; 1) kasih sayang; dan 2) rasa sakit pada rahim wanita setelah melahirkan.
Jika merujuk dalam banyak hadis, antara "rahim" dan "rahmi", Rasulullah SAW lebih banyak menggunakan pandanan "rahim", misalnya:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ". [رواه البخاري ومسلم واللفظ للبخاري]
"Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang suka dilapangkan rezekinya atau ditambahkan umurnya maka hendaklah ia menyambung kekerabatannya"." [HR. al-Bukhari dan Muslim].
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ". [رواه البخاري
"Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung kekerabatannya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbicara yang baik atau hendaklah ia diam"." [HR. al-Bukhari].
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ الرَّحِمَ شِجْنَةٌ مُتَمَسِّكَةٌ بِاْلعَرْشِ تَكَلَّمَ بِلِسَانٍ ذَلِقٍ: "اَللَّهُمَّ صِلْ مَنْ وَصَلَنِي وَاقْطَعْ مَنْ قَطَعَنِي". فَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: "أَنَا الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ، وَإِنِّي شَقَقْتُ لِلرَّحِمِ مِنَ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ نَكَثَهَا نَكَثْتُهُ". [أخرجه الهيثمي]
"Diriwayatkan dari Anas, diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: "Sesungguhnya rahim (kekerabatan) itu adalah cabang kuat di 'Arsy berdoa dengan lisan yang tajam: "Ya Allah sambunglah orang yang menyambungku dan putuslah orang yang memutusku". Maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "Aku adalah ar-Rahman ar-Rahim. Sungguh Aku pecahkan dari namaKu untuk rahim (kekerabatan), maka barangsiapa menyambungnya niscaya Aku menyambung orang itu, dan barangsiapa memutuskannya pasti Aku memutuskan orang itu"." [Diriwayatkan oleh al-Haitsami].
Meski secara makna literal Arab kata "silaturahim" yang lebih tepat, Majelis Tarjih berpendapat bahwa jika kata "silaturahmi" telah menjadi bahasa Indonesia, maka tidak mengapa menuliskan atau mengucapkannya sesuai dengan yang mudah bagi lisan kita.
Karenanya, ketika seseorang mengatakan "silaturahmi", maka dikembalikan ke makna Indonesia dan bukan secara harfiah diartikan dalam bentuk Arab. Sebab kata tersebut telah mengalami transformasi makna.
Lihat juga Video: Keajaiban Silaturahmi
(kny/imk)

















































