Indonesia Jadi Korban Perang Dagang Trump, Kenyataan Pahit Ancam Ekonomi RI

12 hours ago 3

loading...

Neraca perdagangan Indonesia berpotensi mengalami defisit, imbas kebijakan tarif resiprokal Trump. FOTO/dok.SINDOnews

JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia berpotensi mengalami defisit, imbas kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Indonesia menjadi salah satu negara yang dikenakan tarif bea masuk ke AS sebesar 32%.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad menilai, neraca dagang Indonesia bisa tertekan akibat kebijakan Trump, sehingga perdagangan yang pada 2024 mencatatkan surplus senilai USD18 miliar bakal berbalik menjadi defisit.

"Surplus mungkin USD16 miliar-USD18 miliar. Artinya kalau misalnya rata-rata kita katakanlah setiap bulan itu surplus USD3 miliar, kalau Amerika berkurang ya katakanlah nilainya tidak lagi surplus, mengalami balance-nya, otomatis kan potensi surplus kita berkurang," ujar Tauhid saat dihubungi, Sabtu (5/4/2025).

Pasca penetapan tariff reciprocal, kinerja ekspor Indonesia dengan AS yang saat ini masih surplus diyakini tidak bertahan lama. Artinya, dalam beberapa waktu ke depan neraca daging berbalik menjadi defisit. "Ya surplusnya ya menurut saya sih paling banter ya, itu pasti akan jadi balance atau defisit begitu bisa jadi," paparnya.

Dia menjelaskan, kebijakan kenaikan tarif impor tidak hanya berdampak bagi AS sendiri, tapi juga secara global. Akibatnya, akan terjadi disrupsi perdagangan yang luar biasa besar. Multiplier effect atau efek berganda dari sikap proteksionisme Trump ini membuat harga komoditas menjadi lebih mahal dan menurunkan daya beli masyarakat.

"Misalnya gini, ketika Amerika menaikkan tarif, harga semakin mahal permintaan turun, barang-barang produk antara kita yang diproduksi misalnya di China, di Jepang, dan sebagainya yang tujuan ekspornya adalah ke Amerika juga turun kan," beber dia.

"Atau yang direct sudah pasti berkurang ya, tetapi ketika negara lain sebagai produk antara kita, kemudian market-nya ke Amerika itu juga turun, karena mereka juga mengalami kenaikan tarif kan," lanjut Tauhid.

Menurut Tauhid, AS menerapkan tarif bea masuk karena adanya hambatan dari negara lain, termasuk non-tariff barrier yang membuat barang AS menjadi lebih mahal. Beberapa komoditas seperti alkohol dan bahan kimia menjadi sorotan AS.

Dia mengakui memang ada ketimpangan penerapan tarif impor antara AS dan Indonesia. Misalnya, impor pakaian dari AS ke Indonesia dikenakan tarif 12,7 persen sementara tarif impor pakaian dari Indonesia hanya 1,7 persen. Oleh karena itu, dia menyebut, perlu komunikasi lebih lanjut antara Indonesia dan AS terkait komoditas perdagangan kedua negara.

(nng)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |