Dapur Prajurit Hangatkan Belajar Anak Nduga Lewat 'Masariku Peduli Gizi'

2 days ago 2

NDUGA - Di tengah heningnya rimba Pegunungan Jayawijaya, Kabupaten Nduga, Papua Tengah, suara tawa dan semangat belajar anak-anak SD Rimba YPPK Yan Smith Mumugu 2 mendapatkan suntikan energi baru. Kamis (27/11/2025) pagi, Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 733/Masariku meluncurkan program "Masariku Peduli Gizi", membawa kehangatan dari dapur pos mereka langsung ke meja makan ratusan siswa.

Bukan sekadar santapan biasa, para prajurit dengan sigap menyajikan makanan bergizi seimbang: nasi sebagai sumber karbohidrat, ikan dan telur sebagai protein hewani, tempe sebagai alternatif nabati, serta paduan sayuran hijau dan wortel. Menu ini dirancang khusus untuk menjawab tantangan akses pangan yang selama ini membelenggu konsentrasi belajar anak-anak di distrik terpencil ini.

"Tantangan terbesar anak-anak di Krepkuri bukan hanya perjalanan menuju sekolah, tapi juga perut yang sering kosong saat mereka mencoba memahami huruf dan angka, " ujar Maria Mbua (34), Guru Kelas IV yang telah delapan tahun mendedikasikan diri di sekolah tersebut.

Dansatgas Yonif 733/Masariku, Letkol Inf Julius Jongen Matakena, menegaskan bahwa program ini melampaui sekadar pemberian makanan. Ini adalah investasi strategis untuk masa depan generasi penerus.

"Kami melihat gizi sebagai garis depan kedua setelah keamanan. Kalau anak-anak sehat, mereka bisa belajar lebih kuat, bermimpi lebih panjang. Ini investasi generasi, bukan sekadar logistik, " jelas Julius, matanya menerawang memantau siswa yang antusias membawa wadah mereka.

Tim kesehatan (Bakes) Satgas pun turut berperan aktif. Serda Ruslan Wael (29), anggota tim kesehatan, menjelaskan upaya pencegahan dini.

"Kami lakukan pengukuran lengan atas, berat badan, dan observasi klinis ringan. Ada indikasi beberapa anak berisiko stunting. Itulah kenapa protein hewani kami prioritaskan dalam menu berkala, " ungkapnya, menunjukkan kepedulian mendalam terhadap tumbuh kembang anak.

Dampak program ini tak butuh waktu lama untuk dirasakan. Kepala sekolah, Sinta Wenda, mencatat peningkatan kehadiran siswa yang signifikan.

"Sebelum ada program ini, tingkat absensi bisa 3–5 anak per kelas setiap hari. Sekarang turun, bahkan pernah full 100 persen. Anak-anak juga terlihat lebih fokus setelah makan siang, " tuturnya dengan nada bangga.

Kegembiraan juga terpancar dari wajah mungil Nelis (10), siswa kelas III.

"Kalau habis makan dari bapak tentara, saya tidak cepat capek saat menulis. Kepala saya bisa pikir lebih lama, " ucapnya polos, disambut riuh tawa dan anggukan setuju dari teman-temannya.

Lebih dari sekadar hidangan lezat, "Masariku Peduli Gizi" juga menyisipkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mulai dari pentingnya cuci tangan pakai sabun hingga kebiasaan sarapan. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan dampak kesehatan yang berkelanjutan, bahkan setelah jam sekolah usai.

Inisiatif ini dijalankan dengan pendekatan kolaboratif, tanpa kemeriahan seremoni, namun dibangun melalui komunikasi intensif dengan para pendidik dan tenaga kesehatan lokal. Kepala Distrik Krepkuri, Yakobus Kogoya (48), menilai kolaborasi semacam ini sebagai terobosan dalam pendekatan pembangunan di daerah pedalaman.

"Ini bukan kunjungan sesaat. Mereka datang memberi solusi, bukan menambah masalah. Anak-anak makan makanan mereka, tanpa kehilangan cara hidup kami, " pungkas Yakobus, mengapresiasi kemitraan yang menghargai kearifan lokal.

(Wartamiliter)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |