NDUGA - Di tengah keterbatasan akses pangan yang melingkupi Distrik Krepkuri, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, hadir sebuah inisiatif yang menyalakan harapan bagi masa depan generasi penerus. Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Mobile Yonif 733/Masariku tak tinggal diam. Mereka mengoperasikan sebuah 'dapur lapangan berjalan' yang khusus dipersembahkan untuk siswa-siswi SD Rimba YPPK Yan Smith Mumugu 2. Program bertajuk “Masariku Peduli Gizi” ini, yang dilaksanakan pada Selasa (26/11/2025), menjadi bukti nyata kepedulian TNI terhadap pemenuhan gizi anak di daerah terpencil.
Suasana di halaman sekolah yang dikelilingi rimbunnya hutan rimba seketika berubah menjadi pemandangan haru. Puluhan anak dengan tertib mengantre, senyum kecil merekah di wajah mereka saat menerima sajian yang tak hanya mengenyangkan, tetapi juga bergizi seimbang. Menu yang disajikan, mulai dari nasi hangat, aneka sayuran segar, telur, hingga olahan protein hewani, merupakan kombinasi nutrisi yang sangat berharga bagi mereka, mengingat akses logistik yang terbatas di wilayah ini seringkali membuat makanan bergizi menjadi barang langka.
Komandan Satgas, Letkol Inf Julius Jongen Matakena, menekankan betapa pentingnya perbaikan gizi bagi anak-anak di wilayah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal). Ia melihat program ini bukan sekadar pemberian makanan, melainkan sebuah strategi jitu untuk memperkuat ketahanan sosial sekaligus membuka pintu bagi potensi besar yang dimiliki anak-anak Krepkuri.
“Keamanan dan kesejahteraan harus jalan seiring. Kami melihat anak-anak di sini punya potensi besar. Tugas kami memastikan pintu awalnya kuat: gizi yang layak, agar mereka tumbuh sehat, fokus belajar, dan berani bercita-cita, ” ujar Letkol Julius.
Dampak positif program ini tak hanya dirasakan anak-anak, tetapi juga oleh para pendidik dan orang tua. Kepala Sekolah SD Rimba YPPK, Sinta Murib, mengamati perubahan nyata pada konsentrasi dan stamina belajar siswanya. Ia bercerita, sebelumnya banyak murid yang sarapan seadanya, bahkan terkadang tanpa bekal. Namun, sejak program gizi rutin dari Satgas hadir, anak-anak terlihat lebih bersemangat dan fokus di dalam kelas.
“Murid kami biasanya sarapan seadanya, kadang kosong. Sejak ada program gizi rutin dari Satgas, mereka terlihat lebih segar dan lebih fokus di kelas. Guru pun merasakan moril anak-anak meningkat, ” kata Sinta.
Mama Delila Kiwo, seorang orang tua murid yang turut hadir memantau kegiatan, mengungkapkan rasa harunya. Baginya, kehadiran TNI melalui layanan pemenuhan gizi ini memberikan rasa dihargai yang mendalam bagi keluarga di kampungnya.
“Kami tak pernah bayang anak bisa makan lengkap begini di sekolah. Tapi bapak TNI datang kasih bukti, bukan janji. Itu yang bikin kami yakin negara hadir, ” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Tak hanya menyajikan makanan bergizi, tim teritorial Satgas juga menyisipkan edukasi penting mengenai pola hidup bersih, cara mencuci tangan yang benar, dan manfaat konsumsi vitamin. Lettu Kes Bambang Rumaropen, personel kesehatan dari Pos Krepkuri, menjelaskan bahwa edukasi ini krusial agar intervensi gizi yang diberikan dapat memberikan hasil yang optimal.
“Kami bukan hanya membagi makanan, tapi menanam kebiasaan sehat. Gizi yang baik dimulai dari makanan, tapi diperkuat oleh perilaku harian anak, ” jelasnya.
Program “Masariku Peduli Gizi” ini direncanakan akan terus berlanjut ke sekolah-sekolah rimba lainnya di titik binaan selama masa penugasan Satgas. Dapur sederhana di Krepkuri ini kini bukan sekadar tempat memasak, melainkan telah menjelma menjadi simbol baru harapan, sebuah pengingat bahwa dari secangkir nasi hangat dan sentuhan tangan yang penuh kasih, masa depan yang damai dan cerdas bagi generasi muda Papua dapat terus bertumbuh.

















































