loading...
Jemaah haji dari seluruh dunia berjalan dari Mina ke Jamarat untuk melaksanakan lempar jumrah aqabah pada 10 Zulhijah 1447 H atau Rabu (27/5/2026). Foto/Media Center Haji
MAKKAH - Pemerintah Arab Saudi mengimbau jemaah haji Indonesia tidak melakukan prosesi lempar jumrah mulai pukul 10.00 hingga 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Imbauan ini diterbitkan menyusul suhu udara pada siang hari mencapai 45 derajat celsius dan kepadatan luar biasa di area Jamarat, Mina.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi merespons cepat imbauan tersebut dengan menghentikan seluruh pergerakan jemaah di jam-jam rawan. Jemaah diwajibkan untuk tetap bertahan dan beristirahat di dalam tenda masing-masing demi keselamatan.
Ketua PPIH Arab Saudi yang juga Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kemenhaj Ian Heriyawan memastikan aturan ini berlaku mutlak. Ia menginstruksikan seluruh jajaran petugas lapangan untuk mengawal ketat larangan pergerakan di tengah terik matahari tersebut.
Baca Juga: Wamenhaj Sapa Jemaah Haji Indonesia yang Mabit di Muzdalifah
"Seluruh jemaah haji agar mengikuti seluruh ketentuan yang ditetapkan bahwa pukul 10.00 pagi ini hingga pukul 14.00 untuk tidak bergerak keluar tenda," tegas Ian kepada Tim Media Center Haji.
Menurutnya, larangan krusial ini murni diterbitkan oleh Kementerian Haji Arab Saudi sebagai jaminan keamanan jemaah. Kepatuhan pergerakan kerumunan akan dievaluasi secara berlapis oleh misi haji dan penyedia layanan keamanan.
"Kami memerintahkan kepada seluruh jajaran petugas yang ada di lapangan untuk melaksanakan instruksi ini dengan sebaik-baiknya," tandas Ian memberikan penekanan.
Pada hari ini yang bertepatan dengan 10 Zulhijah, jutaan umat Islam dari seluruh dunia tumpah ruah melontar jumrah aqabah. Gelombang jemaah ini akan terus berlanjut pada hari tasyrik bagi jemaah yang mengambil nafar awal maupun nafar tsani.
Pantauan langsung di sepanjang jalur Mina menuju Jamarat mengonfirmasi betapa berbahayanya memaksakan diri di bawah sengatan matahari. Hawa panas yang membakar kulit berpadu dengan lautan manusia yang berdesakan menciptakan kondisi rawan krisis oksigen.
Tidak sedikit jemaah haji yang tumbang kelelahan di tengah jalan akibat kehabisan tenaga secara drastis. Oleh karena itu, jemaah Indonesia sangat diimbau untuk tidak memaksakan ritme masuk ke area Jamarat. Memilih waktu yang lebih teduh dan longgar adalah strategi paling rasional untuk melontar jumrah.
Keselamatan di area lontar jumrah juga sangat bergantung pada kepatuhan mengikuti arus pergerakan massa raksasa. Jemaah diharamkan memutar balik atau melawan arus karena berisiko fatal terdorong oleh gelombang manusia dari arah belakang.
Taktik terbaik setelah menyelesaikan lontaran adalah segera bergeser perlahan mengikuti arus dari bagian kiri ke kanan. Setelah itu, jemaah dapat melipir keluar dengan aman untuk kembali ke pemondokan tanpa harus berbenturan fisik.
(zik)

















































