Bripka Hamzah 15 Tahun Mengabdi untuk Warga Pulau Terdepan Sulteng

5 hours ago 1

Jakarta -

Bripka Hamzah Ladema konsisten melayani warga di ujung timur pulau terdepan Sulawesi Tengah (Sulteng) selama 15 tahun. Ia tak hanya hadir sebagai aparat, tetapi juga membantu dan mendampingi masyarakat.

Atas dedikasinya, Bripka Hamzah diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Bhabinkamtibmas Desa Sonit, Bokan Kepulauan, Kabupaten Banggai Laut, itu sebelumnya juga menjadi kandidat dalam program Hoegeng Corner 2025.

Pengabdian Bripka Hamzah itu turut diceritakan Sekretaris Desa Sonit, Nursalim Yahya. Dia mengenal Bripka Hamzah sebagai polisi yang baik dan dekat dengan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah berapa puluh tahun anggota kepolisian yang bertugas di sini, cuma Pak Hamzah ini yang merupakan polisi yang sangat baik menurut kami, beliau memang terbaik. Beliau ini dekat sekali dengan masyarakat dan beliau ini tidak segan-segan membantu masyarakat yang membutuhkan," kata Nursalim saat dihubungi, Selasa (24/2/2026).

Dia mencontohkan ketika ada warga yang tidak mampu membeli beras, Bripka Hamzah hadir memberikan bantuan kepada orang tersebut. Nursalim mengatakan Bripka Hamzah sudah dianggap keluarga di Desa Sonit.

Saking dekatnya dengan warga, setiap muncul wacana pergantian Bhabinkamtibmas, usulan tersebut selalu ditolak warga. Mereka memilih untuk mempertahankan Bripka Hamzah yang sudah berada di sana selama belasan tahun.

"Beliau tidak memandang siapa itu, apakah itu orang jahat yang kita tidak tahu dari mana atau orang baik, beliau dengan tanpa ragu selalu mengulurkan tangan membantu," ujar Nursalim.

Bripka Hamzah LademaBripka Hamzah Ladema (Foto: Dok Ist)

Nursalim juga membenarkan bahwa Bripka Hamzah menggerakkan warga untuk memanfaatkan potensi lokal dengan menanam rumput laut. Kebanyakan mereka yang bergerak di usaha rumput laut adalah ibu-ibu, sedangkan suaminya mencari ikan ke laut.

"Selain digerakkan juga, ada juga inisiatif warga untuk mengikuti apa yang diarahkan oleh beliau. Bahwa misalnya hasilnya bawa ke Banggai Laut, kita masuk di penjual ini di sini agak tinggi. Dan alhamdulillah kita di sini tidak ada juga yang terikat dengan bos yang memang ada di desa. Jadi kita bebas menjualnya hasil itu ke kota ke Banggai Laut lewat melalui kapal penumpang kan dimuat. Itu pun hasil, hasil survei yang dilakukan oleh Pak Hamzah ini untuk mengecek apa bos yang mengambil dengan harga tinggi gitu," ujar Nursalim.

Cerita Bripka Hamzah

Dalam program Hoegeng Corner 2025, Bripka Hamzah menceritakan awal mula penugasan dirinya di Desa Sonit pada sekitar tahun 2008-2009. Saat itu Bripka Hamzah mendapatkan penugasan dari pimpinannya untuk melakukan pengamanan di Desa Sonit karena ada potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Informasi yang diterima polisi saat itu bahwa ada potensi konflik akibat muncul kabar di tengah masyarakat, Desa Sonit akan dimasukkan ke Kepulauan Taliabu, Maluku Utara. Secara geografis, Desa Sonit memang lebih dekat ke Kepulauan Taliabu namun selama ini pulau tersebut masuk ke Kepulauan Banggai.

"Lebih jauh ke Banggai Laut,dia lebih jauh ke Banggai. Kalau Banggai Laut itu diperkirakan sekitar 5-6 jam. Jadi perbatasan itu Indonesia Timur bagian Sulawesi, paling ujung dia perbatasan dari Maluku Utara, pulau terluar," kata Bripka Hamzah.

Namun potensi gangguan kamtibmas itu berhasil diredam. Masyarakat juga kembali beraktivitas seperti biasa.

Setelah itu, tokoh masyarakat di sana meminta kepada Polres setempat untuk menempatkan kembali Bripka Hamzah di Desa Sonit. Akhirnya Kapolres pun menugaskan Bripka Hamzah untuk tetap di desa tersebut.

"Dan saya tugas itu waktu itu belum jadi Bhabin masih Kapospol, statusnya masih Kapospol begitu," ujar Bripka Hamzah.

Sekitar tahun 2011, Bripka Hamzah pun dikukuhkan sebagai Bhabinkamtibmas Desa Sonit. Dia menyatakan siap patuh terhadap apa pun yang diperintahkan pimpinan.

"Namanya kita tugas tetap siap saja," ujar Bripka Hamzah.

Dia kemudian menjelaskan perjalanan jauh yang harus ditempuh jika seseorang ingin datang ke Desa Sonit tidaklah mudah. Jika dari Sulawesi Tengah, mereka berangkat dari Luwuk, Kabupaten Banggai untuk naik kapal ke Kabupaten Banggai Laut.

Setelah itu, perjalanan akan dilanjutkan kembali dengan kapal menuju Desa Sonit. Sebenarnya, kata Bripka Hamzah, perjalanan dari Banggai Laut ke Desa Sonit kurang lebih memakan waktu 5 jam.

Namun biasanya kapal akan melewati dua desa lain yaitu Desa Kasuari dan Desa Timpaus sebelum akhirnya ke Desa Sonit. Sehingga, perjalanan pun bisa menghabiskan waktu sampai 8 jam.

"Karena di sini (Banggai Laut), berangkat jam 10 pagi, biasa tibanya di sana malam," kata Bripka Hamzah.

Dia mengatakan selalu berusaha untuk menjalankan setiap tugas dengan penuh keikhlasan. Pelayanan kepada masyarakat terus ia lakukan meskipun kadang menemui sejumlah kendala.

"Kendalanya biasanya apabila ada kegiatan di Polres atau Polsek pada saat itu tidak bertepatan dengan jadwal kapal, saya harus menggunakan perahu ketinting milik nelayan," imbuh dia.

Selama bertugas di sana, Bripka Hamzah juga kerap menggunakan kapal nelayan untuk menyeberang ke pulau lain. Bahkan kapal yang dia naiki pernah mati mesin saat di laut. Namun dia bersyukur selama ini masih diberikan kemudahan keselamatan dalam menjalankan tugas.

Aktivitas sehari-sehari yang dia jalankan yaitu melakukan sambang atau kunjungan ke warga untuk menyerap keluhan dari mereka. Bripka Hamzah juga kerap memberikan bantuan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.

"Alhamdulillah dengan hadir Bhabin di sana walaupun cuma santunan sedikit-sedikit untuk mereka tapi mereka bersyukur lah," ujar dia.

Uang yang digunakan untuk santunan kepada warga itu memang berasal dari dana Bhabinkamtibmas. Namun, kata Bripka Hamzah, jika uang itu tidak cukup, dirinya pun harus mengeluarkan biaya sendiri.

"Alhamdulillah biasa beras, beras dan barang-barang sembako. bahan-bahan sembako untuk lingkungan karena saya sambang, saya lihat apa yang dia butuhkan, itu yang saya beli Pak karena saya bercerita dan dialog sama mereka," imbuh dia.

Selain itu, dia juga berupaya memberdayakan masyarakat di sana dengan memanfaatkan potensi lokal. Bripka Hamzah mengajak warga untuk menanam rumput laut yang kemudian hasil panennya dijual ke Banggai Laut.

Selain memberdayakan ekonomi warga, Bripka Hamzah juga biasa menyambangi sekolah. Dia berupaya untuk membantu sekolah yang masih memerlukan bantuan.

Tak hanya memberdayakan ekonomi warga, Bripka Hamzah juga aktif terlibat dalam membantu pendidikan. Dia biasa melakukan kunjungan ke sekolah untuk membantu mereka.

"Kalau kita bicara secara rutin, mungkin tidak rutin juga. Maksudnya ada waktu untuk ke sekolah, saya ke sekolah bantu. Biasa juga ketika kebetulan di TK itu kan masih banyak... kekurangan yang kita harus bantu," ujar dia.

Terakhir, dia menyampaikan harapan agar mendapatkan bantuan kapal tipe long boat yang bisa membantu operasional dia selama bertugas di sana. Sebab selama ini, kata Bripka Hamzah, tugasnya tak hanya di Desa Sonit, kadang juga menyeberangi pulau lain yaitu Pulau Timpaus.

"Kenapa saya minta seperti itu? Karena ketika masyarakat saya sakit. Saya bisa antar pakai itu, ke Banggai Kepulauan" ujar dia.

Lihat juga Video: Kisah Bripka Hamzah 15 Tahun Layani dan Bantu Warga Pulau Terdepan Sulteng

(knv/fas)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |