Bank Raksasa Jerman Memperingatkan Kejatuhan Dolar AS, Ini Dasarnya

19 hours ago 3

loading...

Deutsche Bank, pemberi pinjaman terbesar yang berbasis di Jerman, memperingatkan krisis kepercayaan yang semakin dalam pada dolar AS (USD) mungkin sedang berlangsung. Foto/Dok

JAKARTA - Deutsche Bank, pemberi pinjaman terbesar yang berbasis di Jerman, memperingatkan krisis kepercayaan yang semakin dalam pada dolar AS (USD) mungkin sedang berlangsung. Hal ini menyusul tarif impor baru AS yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump hinggamengguncang pasar keuangan hingga memicu ketakutan terhadap efek perang dagang global .

Dalam sebuah catatan kepada klien yang dikutip oleh Reuters, George Saravelos, kepala global riset valuta asing di raksasa keuangan Jerman itu, mengatakan bahwa perubahan besar dalam arus modal dapat mengacaukan pasar mata uang.

"Pesan kami secara keseluruhan bahwa ada risiko pergeseran besar dalam alokasi arus modal mengambil alih dari fundamental mata uang dan bahwa pergerakan FX (pasar valuta asing) menjadi tidak teratur," tulisnya.

Pada pekan ini dolar AS telah turun tajam, yang terpantau melemah lebih dari 1,5% terhadap euro dan yen Jepang dan lebih dari 1% terhadap pound Inggris. Penurunan itu terjadi setelah keputusan Trump untuk memberlakukan tarif, mulai dari 10% hingga 50%, pada berbagai impor dari puluhan negara.

Meningkatnya kekhawatiran akan perang dagang global dilaporkan telah memacu investor untuk mencari aset safe-haven.

Saravelos memperingatkan, bahwa erosi kepercayaan yang berkepanjangan pada dolar dapat memiliki konsekuensi yang luas, terutama untuk zona euro, menimbulkan tantangan bagi Bank Sentral Eropa (ECB).

"Hal terakhir yang diinginkan ECB adalah guncangan disinflasi yang diberlakukan secara eksternal dari hilangnya kepercayaan dolar dan apresiasi tajam pada euro di atas tarif," katanya.

ECB dilaporkan telah menyuarakan keprihatinannya bahwa langkah-langkah perdagangan AS dapat mengganggu kerja sama ekonomi global, mengacaukan ekspektasi inflasi, dan memaksa kalibrasi ulang kebijakan moneter.

Dampak dari tarif sangat cepat. Pasar saham langsung jatuh di seluruh dunia, harga minyak turun, dan imbal hasil obligasi mundur karena investor bersiap menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu aset yang dipandang sebagai safe haven – termasuk emas, bund Jerman, dan franc Swiss – semuanya mengalami peningkatan permintaan.

Lembaga keuangan lainnya, termasuk JPMorgan dan Fitch, telah mengeluarkan peringatan serupa, seperti dilaporkan Financial Times dan Reuters. Mereka memperkirakan bahwa tarif impor terbaru era Trump dapat mengurangi pertumbuhan PDB AS hingga 1,5% dan berpotensi membuat ekonomi utama lainnya mengalami resesi.

(akr)

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |