Ambruknya Rupiah dan Lonceng Chaos

3 hours ago 4

loading...

Salim Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doctor Universitas Airlangga. Foto/istimewa

Salim
Ketua Dewan Pakar KPPMPI dan Kandidat Doctor Universitas Airlangga

MENGHADAPI era globalisasi yang semakin kompleks, Indonesia berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Ambruknya nilai tukar Rupiah tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga mencerminkan ketidakadilan sosial yang mendalam.

Ketegangan internasional, yang dipicu penguasaan dan perebutan sumber daya alam, menambah ketidakpastian di panggung dunia. Dalam uncertainity condition, Indonesia sebagai negara dengan hampir 60,3 % penduduknya atau sekitar 171 juta orang yang jatuh ke dalam kemiskinan menurut data terakhir World Bank, kita akan menghadapi tantangan yang sangat nyata.

Sejatinya, bangsa Indonesia adalah warisan dari leluhur yang mendiami negeri yang penuh rahmat dan keberkahan. Keindahan alam, keragaman budaya, dan kekayaan sumber daya adalah hadiah yang seharusnya disyukuri, dilestarikan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan seluruh rakyat.

Namun, karakter pemimpin yang lebih mementingkan kepentingan kelompok dan keluarganya, layaknya dinasti, telah mengakibatkan keruntuhan nilai-nilai luhur yang selama ini dijunjung tinggi. Pemimpin yang seharusnya menjadi teladan justru terjebak dalam permainan kekuasaan dan ambisi pribadi, mengabaikan tanggung jawabnya kepada masyarakat.

Ketika Allah menarik kembali rahmat-Nya, bangsa yang dulunya unggulan pun mengalami penurunan. Keterpurukan ini membuka pintu bagi berbagai kerusakan moral: ketidakjujuran, korupsi, dan pengabaian terhadap tanggung jawab sosial. Rentetan peristiwa ini menjadikan mata uang, yang merupakan simbol kekuatan ekonomi, terpuruk. Dalam kondisi yang semakin tidak menentu, rakyat kecil menjadi korban dari kebijakan yang tidak berpihak, terjebak dalam siklus kemiskinan dan ketidakadilan. Di sinilah kita menyaksikan konsekuensi dari kepemimpinan yang lemah kerusakan moral dan turunnya nilai mata uang yang berdampak luas dan mengancam stabilitas bangsa.

Para ekonom sering kali memperingatkan bahwa penurunan nilai mata uang yang berkelanjutan dapat berujung pada ketidakstabilan sosial. Teori ekonomi menunjukkan bahwa ketika daya beli masyarakat mengecil, protes dan kerusuhan sosial bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi. Faktor global dan domestik yang saling berinteraksi menciptakan krisis multidimensional yang dapat menyulut gejolak.

Melihat situasi ini, penting bagi kita untuk memahami lebih dalam tentang dampak ambruknya rupiah dan implikasinya terhadap kehidupan sehari-hari. Coretan ini akan sedikit menggali hubungan antara dinamika global dan kondisi ekonomi domestik, serta bagaimana kedua elemen ini berpotensi membawa Indonesia ke ambang chaos. Mari bersama-sama kita telaah fenomena ini yang tidak hanya berdampak pada perekonomian, tetapi juga pada stabilitas sosial dan masa depan bangsa.

Dalam dunia yang semakin terhubung, dinamika global memiliki dampak yang mendalam dan sering kali tidak terduga terhadap keadaan ekonomi domestik suatu negara. Indonesia, sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam tetapi masih dicengkeram oleh berbagai masalah sosial, kini berada di ambang krisis ketika nilai tukar rupiah terus merosot. Penurunan ini tidak hanya menandai keruntuhan ekonomi, tetapi juga mencerminkan berbagai lapisan permasalahan kemanusiaan yang lebih kompleks.

Read Entire Article
Pembukuan | Seminar | Prestasi | |